Ringkasan Berita
- Dimas mengubah lahan pertanian konvensional menjadi budidaya hidroponik dan mampu menghasilkan omzet Rp 10-30 juta per bulan. Perubahan ini dipicu oleh produktivitas lahan hidroponik yang bisa lima hingga enam kali lipat dibanding pertanian biasa.
- Meski memerlukan modal awal yang besar, sistem hidroponik memberi keuntungan produksi yang lebih terukur dan sayuran yang lebih bersih serta tahan lama, mampu bertahan hingga seminggu jika disimpan dalam pendingin.
- Pasar berkembang dari pelaku usaha kuliner ke permintaan besar dari SPPG, dengan jumlah permintaan mingguan meningkat dari 50 kg menjadi 200 kg. Hal ini membuka peluang bisnis yang lebih luas.
- Dia mengatasi fluktuasi harga dengan tidak bersaing pada harga murah, tetapi menjual keunggulan kebersihan, kesegaran, dan kualitas produk hidroponik. Strategi ini membantu mempertahankan pasar.
- Tantangan utama adalah kebutuhan tenaga kerja harian yang lebih intensif dibanding pertanian konvensional. Namun, bisnis ini tetap dijalankan meski tanpa latar belakang pendidikan pertanian, dengan ilmu yang diperoleh secara otodidak dan dari komunitas.
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Semula hanya lahan pertanian biasa. Namun, Adimas Ketut Nalendra (36) perlahan mengubah cara bercocok tanamnya, hingga menjadi peluang bisnis di lahan hidroponik miliknya di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Kini Adimas menekuni budidaya sayuran, khususnya selada kriting.
Menariknya, pria yang akrab disapa Dimas ini, mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Pengetahuan mengenai hidroponik justru ia peroleh secara otodidak, ditambah dengan belajar bersama komunitas penghobi hidroponik.
Menurut Dimas, usaha hidroponik menjadi pilihan untuk mengembangkan potensi lahan sekaligus membangun sumber pendapatan dari sektor pertanian.
Salah satu lahan yang dikelolanya memiliki ukuran sekitar 10x20 meter. Awalnya, lahan tersebut digunakan untuk budidaya melon.
Namun, seiring berkembangnya permintaan pasar, Dimas mulai membagi produksinya antara buah dan sayuran. Area yang sebelumnya digunakan untuk melon kemudian dialihkan untuk budidaya sayuran hidroponik.
Perubahan itu tidak terjadi tanpa alasan. Sebelum menggunakan sistem hidroponik, lahan tersebut sempat ditanami berbagai tanaman seperti jagung, kacang tanah, sawi, dan sayuran lainnya.
"Hasilnya masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya," kata Dimas, Jumat (18/9/2026).
Dari kondisi tersebut, ia kemudian mencoba mengubah pola bisnis pertaniannya. Sistem hidroponik dipilih karena memungkinkan produksi sayuran dilakukan secara lebih terencana dengan target panen setiap pekan.
Untuk sayuran, Dimas menargetkan panen sekitar 100 kilogram setiap minggu dari lahan di Tegalsari. Sementara untuk tanaman buah, target produksinya dirancang dengan siklus panen sekitar satu bulan sekali.
Menurutnya, produktivitas menjadi salah satu alasan utama ia bertahan menggunakan hidroponik. Dengan luasan lahan yang sama, hasil produksi hidroponik menurut pengalaman yang dijalaninya bisa mencapai lima hingga enam kali lipat dibandingkan pola tanam konvensional.
"Kalau di lahan biasa dengan hidroponik itu hasilnya bisa lima sampai enam kali lipat dari yang biasanya," ucap Dimas.
Meski demikian, lanjut dia, sistem hidroponik membutuhkan modal yang lebih besar pada tahap awal. Investasi diperlukan untuk membangun instalasi dan menyiapkan berbagai kebutuhan produksi.
Seiring berjalan waktu, mantan guru multimedia ini mulai merasakan manfaat dari perubahan tersebut. Selain produksi yang lebih terukur, sayuran hidroponik juga memiliki karakteristik yang menurutnya menjadi nilai tambah bagi konsumen.
Selada dan sayuran yang dihasilkan dibudidayakan dengan sistem hidroponik sehingga lebih mudah dijaga kebersihannya. Jika disimpan di dalam pendingin, sayuran produksinya bahkan dapat bertahan hingga sekitar satu minggu.
"Kalau kita bisa tahan sayur biasanya sampai satu minggu kalau di dalam cooler. Kalau tidak di dalam cooler atau di suhu ruang biasanya sampai tiga sampai empat hari," jelas pria asal Desa Badas ini.
Pasar awalnya berasal dari pelaku usaha kuliner seperti penjual kebab, gado-gado hingga makanan lainnya yang membutuhkan sayuran dalam kondisi bersih dan segar.
Namun, pasar hidroponiknya kemudian berkembang. Permintaan mulai datang dari SPPG yang membutuhkan pasokan sayuran dalam jumlah lebih besar.
Jika sebelumnya permintaan dari pelaku usaha kuliner berada di kisaran 50 kilogram per minggu, permintaan dari SPPG dapat mencapai sekitar 200 kilogram per minggu.
Kondisi tersebut membuat peluang bisnis hidroponik yang ditekuni Dimas semakin terbuka. Permintaan yang meningkat juga mendorongnya menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar.
Dari sisi pendapatan, Dimas menyebut hasil usaha sangat bergantung pada harga dan kondisi pasar. Saat harga sayuran turun, dua petak lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per bulan setelah dikurangi sejumlah biaya, di luar tenaga kerja.
Namun, ketika permintaan tinggi dan kondisi produksi mendukung, hasilnya bisa jauh lebih besar. Setelah Lebaran, misalnya, ia pernah mencatat produksi hingga sekitar 500 kilogram sayuran dalam satu minggu.
Dalam kondisi tersebut, pendapatan bulanan dari usaha hidroponiknya pernah mencapai sekitar Rp 30 juta dengan tenaga kerja yang sama.
Menurut Dimas, hidroponik memang tidak selalu bisa bersaing dari sisi harga. Petani konvensional memiliki lahan yang lebih luas sehingga pada musim tertentu mampu menghasilkan sayuran dalam jumlah besar dengan harga lebih rendah.
Karena itu, ia memilih menjual keunggulan lain dari produk hidroponik, seperti kebersihan, kesegaran, dan kualitas produk. Strategi tersebut menjadi cara untuk mempertahankan pasar ketika harga sayuran mengalami fluktuasi.
Perjalanan membangun usaha hidroponik itu juga membuat Dimas harus menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan tenaga kerja yang harus dilakukan hampir setiap hari.
Berbeda dengan pertanian konvensional yang aktivitasnya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari, budidaya hidroponik membutuhkan pemantauan dan perawatan rutin. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja menjadi salah satu persoalan yang harus dikelola.
Faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Perubahan pola hujan yang tidak menentu dapat memengaruhi kondisi tanaman dan memicu munculnya kembali gangguan hama.
"Walaupun serangan hama dulu sudah minim, cuaca juga memengaruhi. Sekarang hujan sudah tidak terjadwal seperti dulu, itu juga memicu kembalinya hama," katanya.
Selain persoalan produksi, Dimas juga harus terus belajar mengenai pengelolaan usaha. Menurutnya, mengelola satu atau dua instalasi hidroponik berbeda dengan mengelola lahan yang lebih besar.
Ia harus memikirkan manajemen tenaga kerja, efisiensi pupuk, hingga kesinambungan produksi agar usaha tetap berjalan.
Apalagi, pelaku usaha hidroponik tidak mendapatkan pupuk bersubsidi seperti yang tersedia bagi sebagian petani konvensional. Harga pupuk hidroponik pun dapat mengalami perubahan sehingga efisiensi menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Bagi Dimas, perjalanan dari lahan pertanian biasa menuju hidroponik bukan sekadar mengganti metode bercocok tanam. Ia melihatnya sebagai proses mencari model usaha pertanian yang mampu menghasilkan secara lebih terukur sekaligus menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Dari belajar secara otodidak, mencoba berbagai tanaman, menghadapi naik turunnya harga, hingga membangun pasar sendiri, Dimas menunjukkan bahwa lahan pertanian dapat dikembangkan dengan pendekatan bisnis tanpa meninggalkan proses belajar.
Kini, ada beberapa titik lahan hodroponik milik Dimas dengan tanaman sayur selada dan melon. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan pengembangan kepada varietas lain dan juga melakukan opsi pembukaan lahan baru. (uji/msn)










