SURABAYA (bangsaonline) - Sejak rencana penutupan terhadap lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu dimunculkan, tidak ada satupun anggota dewan yang berupaya untuk menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokalisasi.
"Yang lemah itu di pemkotnya, kami tidak pernah diajak koordinasi oleh mereka dalam penutupan Dolly ini. Bahkan, dengan sesama anggota DPRD juga putus komunikasi. Kami menginginkan agar komisi D bertemu dengan komisi yang ada di DPRD Jatim untuk membahas persoalan ini (penutupan Dolly). Ini pemkot tidak memberi contoh yang baik, maka penutupan tidak akan tuntas penyelesaiannya. Ini lemahnya pemkot, kenapa tidak bisa koordinasi dengan kami," ujar anggota Komisi D DPRD Surabaya, Masduki Toha.
Baca Juga: Komunitas Jarak Dolly Surabaya Beri Bantuan di Dua Yayasan Panti Asuhan
Untuk sementara, kata Masduki, dirinya akan tidak mengambil tindakan dulu. Komisi D juga tidak akan melakukan sidak ke lokalisasi Dolly sebelum ada koordinasi dengan pemkot. Pihaknya merasakan keanehan dalam penutupan Dolly ini. Pasalnya, dalam penutupan empat lokalisasi sebelumnya, pemkot rutin berkoordinasi dengan komisi D. Saat ini, antara ketua DPRD dengan anggota juga tidak sejalan. Ketua DPRD menyatakan siap mendukung penutupan, sedangkan ada sejumlah anggota dewan yang meminta harus ditunda terlebih dulu karena warga masih belum siap.
"Untuk sementara kami akan diam dulu. Tapi, siapapun yang demo kesini (gedung DPRD), baik itu yang pro maupun yang kontra, tetap akan kami terima," paparnya.
Hal serupa dikatakan anggota Komisi D DPRD Surabaya lainnya, Sudarwati Rorong. Menurutnya, persiapan pemkot dalam penutupan lokalisasi kurang matang, termasuk penutupan Dolly. Saat ini, beberapa eks lokalisasi seperti Sememi masih bermunculan praktik-praktik prostitusi. Ini ditandai dengan adanya rumah-rumah karaoke di bekas wisma.
Baca Juga: Komunitas Jarak Dolly Bagikan 350 Nasbung pada Warga dan Pengendara di Bekas Lokalisasi
Tak menutup kemungkinan, nantinya setelah Dolly tutup, maka akan muncul rumah-rumah karaoke baru yang belum jelas izin peruntukannya. Keberadaan rumah karaoke ini biasanya dijadikan tempat bagi PSK untuk mencari pelanggan. Pelatihan yang dilakukan pemkot terhadap PSK sejauh ini juga tidak ada hasilnya. "Jangan dipaksakan tutup. Harus tunggu persiapan. Yang kami khawatirkan, nanti di Dolly akan banyak tempat prostitusiterselubung," terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News