Setelah terjadi kerusuhan, akhirnya pihak perwakilan diperbolehkan naik ke lantai 4 dan berdiskusi dengan petinggi rumah sakit. Pada pukul 13.30 WIB, petinggi rumah sakit akhirnya menemui warga dan membacakan surat pernyataan atas masalah vaksin palsu ini.
Pihak RS menyatakan, RS Harapan Bunda menjamin bahwa pasien yang divaksin di luar periode Maret s/d Juni 2016 dan membayar vaksin ke RS Harapan Bunda dan bukan ke dokter/perawat asisten dokter secara pribadi adalah asli.
Selain itu, dokter RS Harapan Bunda akan melakukan pemeriksaan ulang untuk pasien yang diindikasikan mendapatkan vaksin ulang. Apakah perlu akan divaksin ulang/tidak tergantung hasil pemeriksaan dokter.
Sementara Arthur (29), salah satu oran tua yang anaknya jadi korban vaksin palsu menyayangkan kejadian tersebut. Arthur mengaku tidak menyangka rumah sakit tersebut menyebarkan vaksin palsu. Padahal vaksin yang disediakan pihak RS Harapan Bunda dibeli dengan harga yang mahal. Untuk sekali vaksin, Arthur harus mengeluarkan uang sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta.










