Ia menyarankan agar datang lagi pukul 12.00 wib ke atas. "Tapi telepon dulu," katanya. Ketika pukul 13.30 wib, telpon kantor kelurahan Bu Lurah tetap tak ada.
Pada tanggal 30 Mei, MA datang lagi ke kantor kelurahan. Tapi lagi-lagi Bu Lurah tak ada. Kali ini ia juga ditemui petugas yang tempo hari tidur-tiduran di sofa ruangan bu Lurah. "O, sampeyan yang kemarin itu ya. Bu Lurah sekarang gak ada. Lagi rapat dengan wali kota," kata petugas itu.
Karena sudah tiga kali tak pernah bisa bertemu Bu Lurah akhirnya ia tanya apa tak ada solusi untuk menangani surat yang dibutuhkan. Petugas itu malah marah. "Solusinya ya ketemu Bu Lurah," katanya membentak.
"Tanda tangan saya masak laku. Sekretaris Lurah juga sudah pensiun," katanya. Ia makin marah ketika ditanya soal jadwal Bu Lurah.
Karena suasana panas, akhirnya MA mengingatkan. "Saya ini warga yang butuh pelayanan, Pak. Saya kan cuma tanya jadwal Bu Lurah karena saya sudah tiga kali ke sini tapi Bu Lurah selalu tak ada. Jadi sampean tak usah marah dan membentak," katanya.
Petugas itu makin ketus, "Yo wes terserah sampean maunya apa," katanya seolah menantang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




