Ilustrasi: Semar ternyata ciptaan Sunan Kalijaga untuk dakwah Islam.
Karena dakwah pada ayat studi ini berorientasi pada "sabiil", maka benar -selanjutnya- di-breakdown dengan memaparkan metodenya, yakni : al-hikmah, al-mau'idhah a-hasanah dan al-jidal al-ahsan.
Al-hikmah, lazimnya diartikan kebijakan, kearifan, bahkan al-Qur'an sendiri menyebut al-hikmah sebagai kebajikan maksimal atau al-khair al-katsir. Siapa dianugerahi al-Hikmah, maka sama halnya dianugerahi kebajikan berlimpah ruah (al-baqarah:269).
Hikmah itu cara universal, tanpa ditentukan sifat maupun jenisnya. Pokoknya yang terbaik, terefektif dan mengena. Maka bisa saja berupa tutur kata atau tindakan. Tidak sama dengan dua teknik berikutnya yang sudah dipatok, yakni dengan bertutur kata: nasehat (mauidhah) maupun berdebat (jidal). Dakwah orasi ini disebut "al-dakwah bi al-maqal".
Dilihat dari komparasi dua teknik yang lain, rasanya dakwah bil al-hikmah lebih mengarah kepada perbuatan, termasuk kebijakan. Ilmuwan menyebutnya "al-dakwah bi al-hal". Bagi pejabat, dituntut memanfaatkan jabatannya untuk dakwah, untuk kemaslahatan islam dan kaum muslimin. Itulah cara menuju surga paling bagus bagi pejabat.
Satu keputusan penguasa yang memberi kebaikan bagi rakyat banyak adalah amal ibadah yang besar pahalanya. Itulah dakwah pejabat. Jangankan di akhirat nanti, di dunia sekarang bisa diunduh hasilnya. Sebuah kejibakan bermaslahah bagi rakyat akan memproduk simpati murni terhadap pejabat yang bersangkutan. Selanjutnya, dengan sukarela rakyat mesti menghendaki sang pemimpin kembali terpilih, meski tanpa uang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




