Tiap Hari Sedekah Uang Jutaan Rupiah; KH Dr Asep Saifuddin Chalim MA, Putra Pendiri NU (1)

Tiap Hari Sedekah Uang Jutaan Rupiah; KH Dr Asep Saifuddin Chalim MA, Putra Pendiri NU (1) Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, bersama istri, Nyai Alif Fadlilah. foto: dokumentasi PP Amanatul Ummah/ Djoko pitono

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kiai bersahaya ini bukan hanya sukses mendirikan pesantren dengan 8.000 santri, tapi juga kaya raya. Tiap hari bagi-bagi uang jutaan rupiah. Penghasilannya Rp 3 miliar setiap sebulan. Padahal saat muda ia miskin dan pernah jadi kuli bangunan. Apa rahasianya?

Nama KH Dr Asep Saifuddin Chalim, MA banyak menghiasi media massa belakangan ini. Kiai yang memiliki referensi kitab kuning cukup banyak ini memang didaulat para kiai-kiai Jawa Timur sebagai juru bicara ”Tim 17” Calon Gubernur Jawa Timur Dra Khofifah Indar Parawansa M.Si.

Pendiri sekaligus pengasuh dua Pondok Pesantren yakni Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur ini memang salah satu kiai dari 17 kiai yang berhimpun dalam pemenangan Khofifah Indar Parawansa. Tim 17 ini dikomandani KH Dr Ir Salahuddin Wahid (Gus Solah), pengasuh Pesantren Tebuireng yang juga Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang Jawa Timur.

Kiai Asep memang sukses mengelola pendidikan. Santrinya banyak diterima di perguruan tinggi favorit baik di dalam maupun luar negeri seperti di Jerman, Mesir, Australia, Maroko, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Yaman, Saudi Arabia, dan negara-negara lainnya.

Di dalam negeri, santri Kiai Asep banyak diterima di perguruan tinggi favorit seperti Unair, ITS, ITB, UI, UIN, Undip, UGM, UB, Unesa dan perguruan tinggi negeri lainnya. “Dari try out kemarin kemungkinan 200 santri Amanatul Ummah diterima di Fakultas Kedokteran,” tutur Kiai Asep yang juga Rektor Universitas KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto kepada HARIAN BANGSA dan bangsaonline.com.

Wajar jika banyak orang bilang Kiai Asep tokoh pendidikan yang sukses. Apalagi ia mengelola Pesantren Amanatul Ummah itu tak pernah minta sumbangan kepada pemerintah alias mandiri.

”Orang mengira saya ahli pendidikan. Padahal semua ini karena faktor barokah saja,” kata Kiai Asep merendah. Ia bercerita ketika merintis pesantren sebenarnya tak punya dana. “Dana gak punya, ilmu pas-pasan,” tutur kiai yang fasih bahasa Inggris dan Arab ini sembari tersenyum.

Menurut dia, barakah itu datang dari keikhlasan ayahnya KH Abdul Chalim, yang berjuang untuk NU. Kiai Abdul Chalim adalah kiai seangkatan dengan KH Abdul Wahab Hasbullah. ”Cuma usianya lebih muda ayah saya,” ungkapnya.

Kiai Abdul Chalim ini salah satu kiai yang juga berperan besar atas berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU), terutama dari segi administrasi. ”Yang mengurusi surat menyurat pendirian NU ya ayah saya. Yang ditugasi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk mengisi nama-nama pengurus Tanfidizyah pertama ya ayah saya. Jadi sebenarnya ayah pendiri NU bersama Kiai Wahab Hasbullah,” katanya.

Menurut Kiai Asep, ayahnya selain akrab dengan Kiai Abdul Wahab Hasbullah juga kesayangan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.

Simak berita selengkapnya ...