Pohon Tabebuya yang sedang berkemaran di salah satu jalan protokol.
“Dari biji (Tabebuya) yang kita ambil dari tanaman yang ada di pinggir-pinggir jalan, kita bibitkan dalam blok atau bedeng. Kira-kira ada enam blok, dan tiap blok ada sekitar 1.500 bibit,” paparnya.
Hendri menyebut, dari proses pembibitan di bedeng-bedeng itu, jika tanamannya sudah berukuran 30-50 centimeter, maka proses selanjutnya akan dipindahkan ke lahan terbuka tanpa polibag di sekitar kebun bibit.
“Biar pertumbuhannya cepat. Kemudian, kita lakukan pembibitan lagi. Dari biji kering, kita semai, kalau sudah tumbuh kita ambil, kemudian dimasukkan ke polibag,” urainya.
Hendri juga menjelaskan bahwa budidaya Tabebuya yang dilakukan oleh pemkot sampai saat ini belum begitu besar. Namun begitu, sebagian telah ditanam di taman-taman kota. Sedangkan di beberapa ruas jalan, karena membutuhkan ukuran yang besar, sementara ini pemerintah kota mendatangkan dari tempat-tempat pembibitan yang ada di Kediri, Tulungagung, dan Malang.
“Pengadaan tetap ada, karena tinggi pohon di kebun bibit berkisar satu meter,” katanya.
Kepala UPTD Taman, Pramudita Yustiani menjelaskan, mulai proses pembibitan hingga pemeliharaan, pihaknya memiliki tim khusus yang berjumlah lima orang petugas. Mereka dinilai berpengalaman dalam proses pembibitan tanaman. “Pembibitan ini gencar kita lakukan, karena banyak minta, setelah melihat saat bermekaran,” paparnya.
Selama bulan November ini, tanaman Tabebuya bermekaran bunganya di sejumlah ruas jalan. Keindahkan bunga Tabebuya yang nampak di sejumlah lokasi tak jarang dijadikan spot selfie warga. Di Kota Pahlawan, terdapat sekitar tujuh ribu pohon Tabebuya. Setelah banyak ditanam di tengah kota, DKRTH memperluas penanaman di kawasan pinggiran.
Pramudita menambahkan, budidaya tanaman Tabebuya tidaklah sulit. Untuk kesuburan tanaman, DKRTH hanya menggunakan pupuk organik, di antaranya hasil pengomposan. (ian/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




