Kamis, 04 Maret 2021 14:04

Dugaan Kasus Pelecehan Seksual Santriwati, Jubir MSA Tuding Fitnah dan Rekayasa

Rabu, 05 Februari 2020 19:31 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Aan Amrulloh
Dugaan Kasus Pelecehan Seksual Santriwati, Jubir MSA Tuding Fitnah dan Rekayasa
Ratusan massa keluarga besar Pesantren Shiddiqiyyah saat demo di depan Mapolres Jombang, beberapa waktu lalu.

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Pihak Pondok Pesantren (Ponpes) Shiddiqiyyah, Ploso, Kabupaten Jombang, akhinya buka suara terkait kasus hukum yang menjerat MSA, yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya.

Juru Bicara (Jubir) MSA, Nugroho Harijanto, membantah sangkaan polisi yang menyebutkan MSA telah melecehkan santrinya. Ia menuding kasus pelecehan seperti yang dilaporkan pelapor (MNK) tak pernah terjadi.

“Perbuatan asusila seperti yang dituduhkan oleh pelapor terhadap MSA tersebut merupakan fitnah keji. Para santri dan pengurus pondok berani memberikan jaminan bahwa tuduhan itu tidak benar. Pondok Shiddiqiyyah bersih dari perbuatan asusila,” ucapnya dalam rilisnya, Rabu (05/02).

Fitnah tersebut, lanjut Nugroho, bermula dari seleksi santri untuk mengikuti program pelayanan kesehatan masyarakat desa dan pedalaman hutan yang diselenggarakan pihak pondok pada Maret 2017. Pelapor (MNK) merupakan salah satu santriwati yang ikut seleksi itu.

Di tengah sesi tes wawancara, tiba-tiba pelapor menangis di hadapan MSA. Saat ditanya oleh MSA, pelapor mengatakan dirinya merasa kotor karena telah dinodai oleh mantan pacarnya asal Semarang.

“Saat berada di teras rumah terapi, tempat wawancara berlangsung, dan disaksikan semua santri yang mengikuti seleksi. Pelapor mengaku bersalah dan berdosa. Makanya tak heran kalau para santri yang mengikuti seleksi dan menyaksikan siap menjadi saksi dalam kasus ini,” ujar Nugroho.

Nugroho menambahkan, setelah sesi wawancara, pelapor dipanggil oleh salah beberapa orang untuk kembali menceritakan kasusnya dan pelapor menceritakan hal sama. Namun, orang-orang yang memanggilnya tersebut justru meminta pelapor membuat cerita lain.

Pelapor disuruh membuat surat pernyataan yang isinya memutarbalikkan fakta. Dia diminta mengaku telah diperlakukan tidak senonoh oleh MSA, padahal yang berbuat adalah mantan pacarnya.

“Saat membuat pernyataan tersebut, pelapor dipaksa dan diancam oleh tiga orang yang memanggilnya. Setelah itu menyuruh pelapor untuk membagikan surat pernyataan tersebut ke grup WhatsApp. Kami punya bukti bahwa surat pernyataan itu dilakukan MNK di bawah ancaman orang-orang tersebut,” terang Nugroho.

Sebab setelah postingan itu, pelapor menemui MSA dan menceritakan kronologi surat pernyataan tersebut. Dua adik keponakan MSA menjadi saksi pertemuan pelapor dan MSA.

“MSA menganggap masalah itu selesai. Tapi tiba-tiba datang panggilan Polres Jombang tertanggal 25 November 2019 yang menyatakan MSA sebagai tersangka. Belum pernah diperiksa polisi kok tiba-tiba statusnya tersangka. Ini kan aneh,” tutur Nugroho.

Nugroho mengungkapkan, MSA tidak memenuhi dua panggilan polisi karena harus menunggui ayahnya yang sakit, karena patah tulang dan dalam proses penyembuhan tanpa operasi. Pihak keluarga sudah mengirim surat penangguhan panggilan ke Kapolres Jombang, yang ditandatangani ibunda MSA.

Pihaknya melihat ada beberapa kejanggalan dalam kasus tersebut. Dari sisi korban, misalnya, disebutkan dalam laporan polisi bahwa MNK merupakan gadis di bawah umur. Padahal, berdasarkan keterangan ijazah SD, MNK lahir pada tahun 1997. Artinya, pada tahun 2017 saat kasus itu mencuat, MNK adalah wanita dewasa, bukan di bawah umur karena sudah berusia 20 tahun.

“Kami juga menyimpan bukti-bukti percakapan WhatsApp yang menegaskan bahwa MSA itu korban. Tuduhan kepada MSA adalah fitnah keji, dan kami tahu siapa dalangnya,” tegas Nugroho.

Terpisah, Kuasa Hukum Pelapor sekaligus Direktur Women Crisis Center (WCC) Jombang, Palupi Pusporini saat dikonfirmasi mengatakan tidak mempersoalkan tuduhan rekayasa kasus yang tengah didampinginya. Sementara, terkait pelapor yang telah dinodai oleh mantan pacarnya, pihaknya enggan berkomentar banyak.

“Yang jelas kami mengacu kepada laporan korban, alat bukti yang sudah dikumpulkan serta prespektif penyidik yang sudah menetapkan MSA sebagai tersangka. Semua itu terserah keluarga tersangka, itu juga harus dibuktikan di pengadilan,” pungkasnya. (aan/rev)

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Rabu, 03 Maret 2021 05:40 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Data ini benar-benar mengejutkan. Bayangkan. Dari 1.000 orang Indonesia, 950 orang kekurangan vitamin D. Loh, bukankah sinar matahari di Indonesia melimpah?Ternyata sinar matahari saja tidak cukup. Lalu harus ditambah ...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 27 Februari 2021 11:53 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...