
Alvian yang dikonfirmasi dengan rahang mulutnya masih nyeri karena luka pukulan itu menceritakan kronologi kericuhan itu.
"Saat itu kami setelah melakukan aksi teaterikal. Kemudian bermaksud untuk memasang banner protes di gerbang pemkab. Tapi dilarang oleh polisi, dan petugas Satpol PP," jelasnya.
Kemudian karena larangan itu, massa mulai panas dan bermaksud melakukan aksi dorong dengan petugas. "Kami didorong mundur, dan menahan. Kebetulan saya ada di bagian paling depan, dan mendengar ada oknum polisi di depan saya, dikode rekannya di belakang, bilangnya 'awakmu nang ngarep, aku nyurung teko mburi' (kamu di depan, aku dorong dari belakang)," ujarnya.










