Petugas mengenakan APD lengkap mengevakuasi korban yang meninggal mendadak di Buduran.
Peristiwa kedua terjadi di Sedati. Pukul 10.00, Sulihan dan Suwanto melintas di jalan raya Buncitan, Sedati. Keduanya mengendarai Honda Supra X nopol L 5572 DI. Mereka hendak menuju Gedangan.
Suwanto yang membonceng Sulihan curiga. Sebab, temannya terus diam ketika berada di atas motor. Warga Tuban itu lantas menoleh ke kaca spion. Memastikan kondisi Sulihan.
Seketika Suwanto menepi. Dia melihat mata Sulihan terpejam. Tubuh pria 37 tahun itu tampak lemas. Setelah dicek, warga desa Soko, Tuban itu pingsan.
Bergegas, Suwanto putar haluan. Dia dibantu anggota Polsek Sedati beranjak ke Puskesmas Sedati. Agar Sulihan mendapatkan penanganan cepat.
Sayangnya, setelah pemeriksaan, Sulihan dinyatakan meninggal dunia. "Jenazah sudah dibawa ke RSUD," ucap Kanitreskrim Polsek Sedati Ipda Febi Andis Feridan.

Selang satu jam, kejadian serupa terjadi di Wonoayu. Tepatnya di Dusun Gondang, Desa Candinegoro, Wonoayu. Rusmiani tiba-tiba meninggal dunia.
Dari keterangan Taufik, warga setempat, sejak tujuh hari yang lalu, Rusmiani berobat di rumah sakit. Karena sakit typus. "Memang sudah lama di rumah sakit," ucapnya.
Nah, kemarin dia memutuskan pulang ke rumah. Namun, kondisinya kembali memburuk. Perempuan 47 tahun itu mengeluh sakit. Ketika dibawa ke rumah sakit nyawanya tak tertolong.
Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji menjelaskan tiga kejadian itu telah ditelaah. Dari hasil pemeriksaan medis, kematian itu bukan disebabkan korona. "Namun penyakit bawaan," ucapnya.
Contohnya di kejadian di Buduran. Budiman meninggal disebabkan serangan jantung. Di Wonoayu disebabkan typus. (cat/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




