Kompetisi tersebut dilaporkan diselenggarakan dalam tiga kategori, di bawah 14 tahun, di bawah 21 tahun, dan senior.
Menurut surat kabar nasional Daily Voice, pengamat Emmanuel Chirwa bahkan menyatakan kecurigaan adanya kecurangan karena bocah yang tewas adalah juara bertahan. "Dia bukan hanya seorang peminum amatir," kata Emmanuel Chirwa.
Menurut Chirwa, kontestan membayar Rp 20 ribu, untuk mengikuti kompetisi. Dan satu-satunya aturan adalah mereka harus makan sesuatu terlebih dahulu. "Jadi, dia tidak mati karena dia tidak makan sebelum memulai kontes. Mereka semua makan sebelum kontes. Ada yang salah," cetus Chirwa.
Petugas perlindungan anak Shanks Nkhata menindaklanjuti masalah ini dan akan meminta kepala daerah setempat untuk melarang pembuatan bir ilegal ini. "Kami mendengar, anak itu berada kelas 7 di SD Kafulufulu dan dengan sekolah-sekolah yang sedang istirahat Corona (Covid-19), dia berubah menjadi pemabuk yang rajin."










