Koestini sukses dengan usaha batiknya berkat pendampingan dari EMCL dan Kopernik Tuban.
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Koestini (52) tak pernah membayangkan minatnya pada batik dapat meningkatkan pamor Batik Tuban. Tak hanya itu, ia juga berhasil mendorong perempuan di desanya untuk berdaya dan berkarya.
Perempuan asal Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban ini memang terlahir dari keluarga pembatik. Minatnya membatik tumbuh sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.
BACA JUGA:
- EMCL Dukung Pelaku UMKM Binaan Ikut Tuban Fair 2025
- Antisipasi Tambang Liar Masuk, Puncak Baswara Rengel Dilakukan Penanaman Besar-besaran
- Masyarakat Bojonegoro Mulai Rasakan Program Gayatri, Tapi KPM Tetap Butuh Pendampingan
- ExxonMobil Cepu Limited Beri Pelatihan Arsitek Bagi Warga Tuban dan Bojonegoro
Ia ingin membantu dan mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Hal itulah yang mendorongnya menekuni batik sebagai profesi. Untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan, Koestini rajin mengikuti beragam pelatihan membatik.
Salah satunya, pelatihan membatik dengan pewarna alami. Pelatihan tersebut digagas ExxonMobil dan Kopernik, sebuah lembaga swadaya masyarakat global, sebagai bagian dari program pendampingan para pembatik Tuban. Program ini difokuskan pada proses pewarnaan batik ramah lingkungan.
"Pelatihan ini mengenalkan kami pada teknik baru yang ramah lingkungan serta desain batik modern," ungkap Koestini.
Kreativitas baru ini berhasil menarik minat konsumen dan meningkatkan daya jual. Salah satu keberhasilannya terwujud dalam kemitraan dengan merek batik SUKHA CITA untuk memasok batik modern dengan pewarna alami.
"Sejak menjalin kemitraan dengan SUKHA CITA, kami memiliki pasar yang jelas sehingga omset bulananstabil. Dalam seminggu, omset kami mencapai dua juta rupiah untuk setiap pengrajin," tutur Koestini.

Sebagai ketua kelompok pembatik Desa Gesikharjo, Koestini sangat gigih berpromosi. Beragam karya anggota kelompoknya dipromosikan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




