
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Warga Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, Jember seakan didesain tangguh untuk bercocok tanam. Tidak hanya itu, mereka juga luwes untuk melahirkan karya tirai bambu yang menurut bahasa setempat disebut kerai.
Kerajinan tangan yang berbahan dasar bambu tersebut dianggap mempu menopang perekonomian masyarakat Desa Harjomulyo. Bahkan selain bertani, kerajinan itu sudah sejak lama menjadi mata pencaharian masyarakat Desa Harjomulyo.
Karya ini juga menghasilkan pundi-pundi uang sebagai penopang perekonomian bagi masyarakat.
Dengan model pemasaran secara swadaya terbukti menghasilkan banyak permintaan yang masuk untuk produk kerai bambu yang dihasilkan, salah satunya yang menjadi pasar mereka adalah Pulau Bali.
Melihat potensi itu, prajurit TNI Satuan Tugas (Satgas) program TNI Manungggal Membangun Desa (TMMD) ke-110 tahun 2021 memberi dorongan berupa modal serta pemasarannya.
"Peran TNI dalam rangka TMMD ke-110, kita membantu permodalan bagi masyarakat sini serta pemasaran agar produknya dikenal lebih luas lagi," ucap Dan SSK Kapten Inf Sugiono di sela-sela tugasnya, Jumat (12/03/2021) di Desa Harjomulyo.
Ia juga berharap ada perhatian dari pemerintah, baik daerah maupun pusat. Sebab dari dulu hingga sekarang para perajin masih membuat kerai dengan cara manual.
"Saya yakin dan percaya dengan pembinaan melalui program ini, bisa mencapai pemasaran yang lebih luas lagi sehingga menjadi pruduk lokal unggulan di Kabupaten Jember, dan masyarakat Desa Harjomulyo menjadi sejahtera," harapnya.
Sutri, salah satu perajin kerai warga Dusun Simberlanas Barat mengaku senang dapat perhatian dari TNI. "Alhamdulilah, terima kasih kepada TNI sudah membantu kami," ucapnya.
Ia menjelaskan, pemasaran yang dilakukannya selama ini secara swadaya (kelompok). "Pemasaran sampai ke Bali, Jakarta, Sidoarjo," terangnya.
Setiap harinya ia bisa menghasilkan kerajinan itu 4-5 kerai. "Untuk harganya bervariasi, tergantung dari panjang kerainya, mulai dari Ro 30 ribu sampai Rp 60 ribu," tutupnya.
Kepala Desa Harjomulyo, Kartono memaparkan dengan bangga potensi kerai di desa yang ia pimpin. “Kalau peminatnya dari luar Jawa pun banyak yang pesan, misalnya Bali, Surabaya hingga Jakarta," tutur Kartono.
Kartono berharap pemerintah merespon cepat untuk mengembangkan potensi ini. “Ini juga bagian dari kearifan lokal desa ini yang harus didorong untuk lebih baik lagi,” pungkasnya. (yud/eko/ian)