Penganut Vegetarian Ekstrem, Polisi Harus Dimusuhi

Penganut Vegetarian Ekstrem, Polisi Harus Dimusuhi Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Ternyata bukan hanya agama yang membuat orang fanatik. Vegetarian pun juga sama. Bahkan punya keyakinan harus dimusuhi.

Benarkah? Simak tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com hari ini, Kamis 27 Januari 2022. Selamat membaca:

"SAYA menyesal telah menghubungi di 911".

Sang ibu tidak menyangka teleponnyi itu menyebabkan dua tewas. Anaknyi sendiri ikut mati.

Sore itu, pukul 17.09, sang ibu memang bertengkar dengan salah seorang anak laki-lakinyi. Jumat sore lalu.

Rupanya pertengkaran itu hebat sekali. Sang ibu merasa terancam. Lalu call 911.

"Apakah ada yang terluka?" tanya petugas penerima telepon. Itu pertanyaan standar. Agar menyiapkan ambulans atau tim medis.

"Saya tidak terluka apa-apa," jawab sang ibu.

"Apakah ada senjata api di situ?" tanya petugas lagi.

"Tidak ada," jawabnyi.

Tiga pun berangkat ke rumah sang ibu: di Harlem. Lokasinya hanya 5 menit dari Central Park, New York.

Sang ibu menunggu kedatangan di depan apartemen. Dia ditemani anak laki-laki satunya lagi. Mereka memang bertiga di apartemen itu.

Setiba di lokasi tiga tersebut berbincang dengan sang ibu.

"Di mana posisinya?" tanya tentang anak yang membuatnyi terancam.

"Di belakang kamar tidur," jawab sang ibu.

"Membawa senjata api?"

"Tidak," jawab sang ibu dengan keyakinan penuh.

Dua di antara tiga itu pun menuju kamar dimaksud. Mereka menelusuri lorong apartemen yang sempit. Mungkin si anak sudah curiga bakal ada yang datang. Ia tahu ibunya menghubungi .

Apalagi langkah di lorong sempit itu cukup tegap. Bisa terdengar dari dalam kamar.

Begitu langkah sepatu sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu kamar itu seperti dibuka dari dalam dengan kasar: dor-dor-dor-dor... Dua itu pun tumbang. Bahkan sebelum sempat menarik senjata mereka.

Polisi satunya, yang masih ngobrol dengan sang ibu, melihat adegan brutal itu. Ia langsung menembakkan senjatanya ke arah penembak yang mencoba lari di koridor sempit. Yang ditembak terjengkang. Senjata masih di tangannya. Ia masih berusaha menembakkan senjatanya ke arah yang tidak terkontrol lagi. Lalu terkulai. Mati.

Masih ada 40 peluru lagi yang sudah terpasang di magasin hasil modifikasi.

Jason Rivera, yang baru berumur 22 tahun itu tewas di tempat. Jason baru 2 tahun jadi . Baru 3 bulan lalu menikah.

Wilbert Mora, berumur 27 tahun, luka berat. Peluru bersarang di dalam kepalanya. Harus dibawa ke rumah sakit untuk dikeluarkan. Peluru lainnya menembus dadanya.

Lashawn McNeil, si anak nakal yang sudah berumur 47 tahun, tewas di tempat. Ia sudah lama cerai. Anaknya 4 orang, semua ikut ibu mereka.

Shirley Sourzes, sang ibu, hanya bisa menyesali diri: mengapa dia menghubungi . Bagaimana pula dia tidak tahu kalau anaknyi menyimpan senjata ''Glock 45'' di bawah tempat tidurnya. Bahkan masih ditemukan lagi senjata kedua di bawah kasurnya.

First Street, Manhattan, ditutup total. Sampai keesokan harinya. Terutama di sekitar kantor tempat Jason bertugas. Karangan bunga, poster, lilin, ucapan duka memenuhi kawasan itu.

Saya pernah ditangkap di dekat sini: salah jalan. Ketika saya tunjukkan paspor dan SIM Indonesia saya disuruh memutar balik. Saya mengucapkan kata 'maafkan' –dengan kesopanan Indonesia– lebih 10 kali saat itu.

Tahun ini sudah lima orang New York tewas dalam tugas. Itu seperti menampar wali kota baru New York yang pensiunan : Eric Adams.

Program baru Eric adalah memerangi kejahatan di New York –yang selama Januari naik hampir 100 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu.

Sebenarnya Eric baru saja menemukan obat ajaib untuk kesuksesan programnya itu: semua New York harus tinggal di New York. Dengan demikian di rumah pun masih bisa ikut mengamankan lingkungan mereka.

Bukankah tugas itu 24/7 –24 jam sehari, tujuh hari seminggu? Bagaimana bisa 24/7 kalau tinggalnya di luar kota?

Selama ini hanya sekitar 30 persen New York yang tinggal di New York. Selebihnya tinggal di pinggiran New Jersey atau pinggiran Pennsylvania yang dekat dengan New York.

Tapi obat ajaib Eric itu mendapat reaksi yang ajaib pula: tidak satu pun komentar yang menyetujuinya. "Mana ada -biasa yang kuat membeli rumah di kota New York," ujar seorang seperti disiarkan harian The New York Post. "Apakah Eric akan membelikan kita rumah?" kata yang lain.

Belum lagi soal hak asasi. "Masak Eric tidak tahu bahwa ia tidak boleh mencampuri hidup kita," kata yang lain lagi.

Akhirnya disadari: Eric kini seorang politisi. Ia harus memilih kata-kata manis meski tidak realistis. Politisi harus kelihatan cerdas –setidaknya lewat kata-katanya.

Untuk urusan kriminalitas, seperti penembakan di apartemen itu, saya tidak membaca New York Times. Saya pilih New York Post –seperti Kompas dan Pos Kota-nya Jakarta.

McNeil, si pemilik senjata gelap, belum lama tinggal di New York. Ia memang dipanggil sang ibu untuk kumpul di New York. Sang ibu lagi sakit. Adik laki-lakinya lebih sakit lagi: livernya dalam keadaan berat.

Inginnyi, McNeil bisa meringankan beban keluarga. Tapi selama jadi satu rumah, sang ibu lebih banyak bertengkar dengan McNeil. Ternyata McNeil sudah tidak seperti yang dibayangkan dulu. Ia kini sudah menjadi penganut yang . Ibunya dipaksa ikut keyakinanya.

McNeil bukan biasa. Ia juga punya keyakinan bahwa harus dimusuhi. Polisi harus dibunuh. Polisi telah menjadi musuh warga kulit hitam. Ia selalu mengikuti media yang mengutamakan teori konspirasi. Otaknya tercemar.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Saat Apel Pagi, Polres Lumajang Didatangi Pria Bersenjata Tajam':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO