JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Pendeta esktrem yang mengaku bernama Syaifuddin Ibrahim memuji Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas sebagai menteri yang sangat toleran dan damai terhadap minoritas. Pendeta yang tampak sangat fundamentalis itu mendukung penuh kebijakan Menag Yaqut soal adzan. Bahkan ia mendukung Menag Yaqut menggunakan kekuasaanya secara otoriter. Yaitu pakai kekuatan tentara dan Banser.
“Bapak adalah pemerintah. Menteri Jokowi. Bapak memiliki banyak hal. Bapak memiliki tentara. Pakailah tentara itu. Bahkan bapak punya Banser NU seluruh Indonesia yang bisa digerakkan bapak sebagai panglima Banser. Soal adzan itu urusan menteri agama, kenapa rakyat marah. Jangan takut dengan kadrun, Islam sontoloyo itu Pak,” kata pendeta fundamentalis itu dalam rekaman video yang kini viral di media sosial.
Baca Juga: Pj Wali Kota Kediri Bacakan Amanat Menag saat Jadi Inspektur Upacara Hari Santri Nasional 2024
Pendeta ini memang tampak otoriter dan antidemokrasi. Ia mendesak Menag Yaqut yang ia puji sebagai menteri damai itu agar tidak hanya mengatur adzan tapi juga merombak kurikulum pondok pesantren.
Karena, menurut pendeta Kristen itu, kurikulum pondok pesantren telah melahirkan kaum radikal dan teroris. Karena itu, menurut dia, ganti semua guru-gurunya.
Tak hanaya itu. Ia secara lancang minta agar Menag Yaqut menghapus 300 ayat al-Quran yang menurut dia memicu kekerasan dan radikalisme. Cuma ia tak menyebut satu pun contoh ayat yang dipersoalkan.
Baca Juga: Ulama NU Asal Sulsel Ini Terkejut Ditunjuk Prabowo Jadi Menteri Agama
“Bahkan kalau perlu Pak, 300 ayat yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal, dan membenci orang lain karena beda agama, itu diskip, direvisi, atau dihapus dari al-Quran Indonesia,” katanya.
Ia lalu membandingkan dengan pemerintah China yang ia sebut telah menghapus ayat-ayat al-Quran yang kasar sehingga menurut dia, di China tak ada umat Islam yang jadi teroris.
Pendeta yang cara bicaranya seperti orang tak normal itu mengaku pernah menjadi guru di Pondok Pesantren Az-Zaitun Indramayu. Menurut dia, pondok pesantren Az-Zaiatun tempat teroris. "Tapi teroris berdasi," katanya.
Baca Juga: Menkominfo dan Menag Dianggap Adu Domba Umat Beragama, Umat Kristiani Tak Persoalkan Adzan
Ia mengatakan bahwa teroris itu tak datang dari sekolah Kristen. “Tak mungkin,” tegas pendeta ekstrem itu.
Banyak tanggapan di internet. Termasuk dari netizen yang beragama Kristen. Intinya semua jijik dengan pernyataan pendeta ekstrem itu.
"Saya beragama Kristen. Tapi saya nek nek dengan pendeta ini," tulis seseorang yang mengaku beragama Kristen.(tim)
Baca Juga: Sore Ini Pengurus Ansor 2024-2029 Dilantik di Istora Senayan, Undang Jokowi dan Prabowo
.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News