
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Jember kembali tercatat sebagai daerah inflasi tertinggi di Jawa Timur. Hal ini, berdasarkan data yang tercatat dari hitungan Year on Year (YoY) yang merupakan perbandingan sejak Desember 2021 hingga Desember 2022, maupun Year to Date (YtD) yang dihitung sejak awal tahun 2022.
Kepala BPS Jember, Tri Erwandi mengatakan, pihaknya mencatat inflasi Kabupaten Jember mencapai 7,39 persen, baik Yoy maupun YtD. Hal ini, membuat Jember terekam mengalami inflasi sepanjang 2022.
"Jadi memang tidak bisa direm begitu saja (inflasi). Karena angka tahunan ini diperoleh dari angka bulanan. Jadi kalau mau meredam ya mulai Januari harus beraksi (mengendalikan inflasi)." jelasnya, Senin (2/1/2023).
Menurutnya, tingkat inflasi tahunan yang dialami oleh Jember, disebabkan oleh kenaikan beberapa komoditas dalam beberapa bulan terakhir sebelum tutup tahun 2022. Hal itu, membuat Jember mengalami kenaikan terlebih dahulu, dibandingkan daerah lainnya.
Oleh karena itu, kata Tri, menjadikan Kabupaten Jember mengalami inflasi terlebih dahulu daripada daerah-daerah lainnya.
"Yang (daerah) lainnya belum naik (beberapa komoditas), suatu saat dia akan naik, kita sudah duluan." jelasnya.
Tingginya inflasi tahunan ini, menurutnya, juga disebabkan kelalaian tim pengendali inflasi daerah (TPID) di awal 2022 hingga akhir tahun. Pada 3 bulan terakhir, Tri mengatakan, upaya TPID baru tampak sangat masif.
"Jadi (upaya TPID) Januari sampai Agustus itu kurang ya. Karena mungkin masih dianggap biasa- biasa saja. Padahal di sana sudah mulai ada inflasi 1 (persen) lebih, biasanya nggak sampai 1. Ditambah bulan September ada kenaikan BBM." ujarnya.
Sementara, dari data yang dirilis oleh BPS Jember hari ini, mencatat penyumbang inflasi tertinggi adalah kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau, yang mencapai 8,27 persen.
Disusul dengan pengeluaran transportasi masyarakat karena dampak kenaikan BBM yang mencapai 13,91 persen. (yud/sis)