
JOMBANG, BANGSAONLINE.com – Menjelang Idul Adha, seorang warga NU sowan kepada KH Bisri Syansuri. Orang itu bertanya tentang ketentuan hewan kurban.
Kiai Bisri memang dikenal sebagai ulama ahli fiqih. Bahkan pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang itu tidak hanya ahli fiqh tapi juga sangat konsisten menerapkannya. Sedemikian konsistennya sampai Gus Dur menujuluki Kiai Bisri Syansuri sebagai pecinta fiqh sepanjang hayat.
“Pak Kiai, saya mau berkurban sapi. Keluarga saya 8 orang. Bolehkah 1 sapi untuk 8 orang,” tanya orang itu kepada Kiai Bisri.
Kiai Bisri yang Rais Aam Syuriah PBNU (1971 hingga 1980) itu menjawab tidak boleh. Karena dalam ketentuan fiqh: 1 sapi untuk 7 orang. Tak bisa ditawar. Kalau 1 kambing untuk 1 orang.
Rupanya orang itu belum puas dengan jawaban Kiai Bisri. Ia pun bertanya lagi.
“Tapi sapi yang akan saya buat qurban itu besar sekali, Pak Kiai,” tanya orang itu lagi.
Kiai Bisri Syansuri tetap dengan pendapatnya.
“Tidak boleh. Tambah saja lagi dengan 1 kambing,” saran Kiai Bisri Syansuri.
Orang itu mohon pamit. Ia kemudian sowan ke KH A Wahab Hasbullah di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang.
Di depan Kiai Wahab, orang itu kembali menanyakan soal kurban 1 sapi untuk 8 orang.
“Kami ingin nanti di akhirat 8 keluarga kami sama-sama naik sapi yang besar itu, Pak Kiai. Bolehkah kami berqurban 1 sapi besar untuk 8 keluarga kami. Kan yang satu orang dari keluarga kami itu masih sangat kecil. Kasihan kalau dia naik kambing sendirian, ” tanya orang itu.
Kiai Wahab yang juga dikenal sebagai ahli fiqh tapi piawai berdiplomasi itu tersenyum.
“Boleh, boleh,” jawab Kiai Wahab.
Orang itu langsung sumringah.
Kini giliran Mbah Wahab – panggilan warga NU kepada Kiai Abdul Wahab Hasbullah – yang bertanya.
“Anak yang kecil itu umur berapa,” tanya Kiai Wahab yang kondang sebagai pendiri Nadhlatul Ulama (NU) itu.
“Umur 3 bulan, Pak Kiai,” jawab orang itu.
“Begini. Untuk naik sapi, apalagi sapinya besar, anak kecil itu kan perlu tangga (panci’an atau ancik-ancik-bahasa Jawa). Sampean berqurban saja 1 kambing lagi buat tangga anak yang kecil itu,” kata Mbah Wahab.
Orang itu langsung tersenyum lebar.
“Nggih Yai. Maturnuwun sanget,” katanya girang.
Orang itu langsung menyerahkan sapi dan kambingnya kepada Mbah Wahab. (MMA).