Tanam pohon yang dilakukan Pemerintah Desa Sukoharjo, Bojonegoro. Foto: EKY NURHADI/ BANGSAONLINE
"Desa Sukoharjo merupakan salah satu desa penghasil migas di Bojonegoro, dengan demikian Sukoharjo termasuk ikut menyumbang emisi karbon yang menyebabkan krisis iklim global. Gerakan penghijauan ini merupakan bagian dari tanggunjawab moral kami untuk berkontribusi dalam penyerapan emisi," urai Sulistiyawan.
Ia menyatakan, kegiatan konservasi dan pengembangan kawasan Agroforestri Desa Sukoharjo bertujuan untuk pembangunan lingkungan dan juga peningkatan pendapatan warga melalui pengembangan budi daya tanaman buah-buah yang memiliki nilai ekonomis.
"Jika pengembangan Agroforestri ini berhasil, kami juga akan membangun taman arboretum, sehingga ke depannya kita bisa mengembangkan ekowisata atau wisata berbasis alam," katanya.
Konservasi dan pengembangan Agroforestri Desa Sukoharjo mendapat apresiasi Direktur Bojonegoro Institute, Aw Saiful Huda. Disebutkan, Bojonegoro Institute selama ini telah menjalin kerja sama dan mendampingi Pemerintah Desa Sukoharjo untuk penguatan kelembagaan dan pengembangan inovasi percepatan pengentasan kemiskinan desa.
"Kami melakukan kegiatan SLA (Sustainable Livelihood Approach) yang dipandu saudara Agni Paribrata dari EJEF (East Java Ecotourism Forum). Kesimpulan sementara terhadap 5 (lima) modal penghidupan, eksploitasi terhadap sumber daya alam belum menimbulkan multilply effect bagi beberapa parameter penghidupan masyarakat desa setempat," paparnya. (nur/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




