Ilustrasi. Foto: M. SULTHON NEAGARA/ BANGSAONLINE
BANGSAONLINE.com - Memasuki bulan Juni hingga Juli biasanya Indonesia mengalami peralihan musim dari hujan ke kemarau. Beberapa gunung yang tutup selama musim hujan akan kembali dibuka pada musim kemarau.
Banyak pendaki yang beranggapan bahwa mendaki di musim kemarau akan terasa lebih dingin saat malam hari, benarkah demikian? Jika benar, mengapa justru terasa dingin saat musim kemarau?
BACA JUGA:
- Antisipasi Kemarau, Bupati Yuhronur Siapkan Strategi Amankan Status Lamongan sebagai Lumbung Pangan
- Target Swasembada Pangan, Pemkab Lamongan Siapkan Strategi Hadapi Kemarau 2026
- Pemula Wajib Tahu! Begini Cara Hemat Air saat Mendaki Gunung
- BMKG Ungkap Kemungkinan Badai Seroja Terjadi Lagi Selama Puncak Musim Hujan
Mengutip dalam situs resmi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), mulai bulan Juni suhu memang terasa lebih dingin. Hal ini merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi, khususnya di wilayah Pulau Jawa hingga NTT (Nusa Tenggara Timur).
Penyebabnya adalah monsoon dingin Australia, yaitu pergerakan angin dari arah timur (Australia) menuju ke arah Indonesia. Di mana pada bulan Juli, Australia memasuki periode musim dingin.
Angin yang bertiup dari Australia akan melewati Samudra Indonesia yang suhu permukaan lautnya dingin, ditambah lagi dengan berkurangnya awan dan hujan yang mengakibatkan suhu terasa lebih dingin di malam hari, khususnya Pulau Jawa sampai NTT.
Selain itu, langit yang cenderung cerah (bersih awannya) akan menyebabkan panas radiasi gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar. Sehingga membuat udara yang dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama saat malam hingga pagi hari.






