KHA Muchith Muzadi
Mbah Muchith waktu remaja nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ia santri langsung Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Setamat dari Tebuireng, ia mendirikan Madrasah Salafiyah (1946) di Tuban Jawa Timur. (Baca juga: Berkilah Cuma Juru Ketik, Mbah Muchith, Kiai Penggagas Khitah 26 Itu telah Pergi)
Pada 1952, Mbah Muchith mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) dan 1954 mendirikan Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama. Pada 1961, Muchith muda diangkat sebagai pegawai di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta dan Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta.
Dari Yogyakarta, ia kemudian ditugaskan di IAIN Malang tahun 1963, disamping tetap merintis pendidikan di lingkungan NU, dengan mendirikan SMP NU.
Saat mendapat kepercayaan sebagai Pembantu Dekan II di IAIN Sunan Ampel Jember, ia mendirikan Madrasah Tsanawiyah NU. Nah, dalam perjuangan di NU dan pendidikan itulah ia dipertemukan dengan sahabatnya sesama alumnus Pesantren Tebuireng, KH. Achmad Shidiq.
Ketika KH Achmad Shidiq menjabat Rais Am Syuriyah PB NU, Mbah Muchith dipercaya membuat rumusan konseptual mengenai ahlus sunah wal jamaah. Ia juga dipercaya membuat rumusan hubungan Islam dan negara, serta mencari rumusan pembaruan pemikiran Islam.(habis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




