Suriah Kini, Mengulang Tragedi Penghancuran Irak dan Libya

Suriah Kini, Mengulang Tragedi Penghancuran Irak dan Libya Khariri Makmun. Background foto: Antara

Suriah kini mengikuti pola yang sama, di mana kejatuhan rezim hanya membawa kehancuran tanpa prospek pemulihan jangka panjang.

Di dunia yang semakin bergantung pada sistem perbankan global, utang menjadi instrumen kontrol yang efektif. Negara-negara seperti Amerika Serikat memiliki utang besar yang terus meningkat, namun tetap memegang kendali atas kebijakan moneter global melalui dominasi dolar. Sebaliknya, negara-negara seperti Suriah yang tidak memiliki utang dianggap sebagai ancaman karena mereka dapat menentukan kebijakan ekonomi tanpa campur tangan asing.

Kemandirian finansial ini memungkinkan Suriah menjaga identitas budaya dan politiknya. Namun, ini juga yang menjadikannya target bagi kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat dan Israel, yang memandang sistem perbankan independen Suriah sebagai hambatan terhadap agenda geopolitik mereka.

Dengan kerusakan yang begitu luas, baik fisik maupun sosial, masa depan Suriah terlihat suram. Reformasi ekonomi yang dijanjikan rezim baru tidak menunjukkan hasil yang signifikan, sementara rakyat terus menderita di bawah beban kemiskinan, pengangguran, dan krisis kemanusiaan. Dalam dua tahun ke depan, rakyat Suriah mungkin akan mengenang masa lalu di bawah Bashar al-Assad sebagai masa yang lebih stabil, meski penuh kontroversi.

Namun, apa yang terjadi di Suriah bukan hanya tentang kegagalan sebuah negara. Ini adalah refleksi dari dinamika global di mana kedaulatan nasional semakin terkikis oleh kekuatan ekonomi dan militer internasional. Suriah adalah korban dari sistem yang lebih besar, di mana negara-negara kecil dipaksa tunduk pada aturan permainan yang ditetapkan oleh kekuatan besar.

Suriah, Irak, dan Libya adalah contoh bagaimana intervensi asing, dengan dalih demokratisasi, sering kali hanya membawa kehancuran. Dunia perlu belajar dari kegagalan ini dan menata ulang pendekatan terhadap konflik dan pembangunan. Kemandirian suatu negara seharusnya dihormati, bukan dihancurkan.

Dalam konteks ini, penting bagi komunitas internasional untuk tidak hanya fokus pada pemulihan Suriah secara fisik, tetapi juga membangun kembali kedaulatannya. Ini mencakup penghormatan terhadap identitas budaya, hak untuk mengelola sumber daya alam, dan kebebasan dari campur tangan asing.

Tanpa perubahan mendasar dalam tatanan global, tragedi seperti yang dialami Suriah akan terus berulang. Dan pada akhirnya, rakyat biasa yang akan menanggung akibatnya—menderita dalam lingkaran kemiskinan, ketidakadilan, dan kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Penutup

Suriah, seperti Irak dan Libya, adalah pelajaran pahit tentang pentingnya kedaulatan nasional di tengah dinamika geopolitik global. Ketiga negara ini menunjukkan bahwa tanpa kedaulatan, stabilitas dan kesejahteraan hanyalah mimpi. Namun, tragedi ini juga mengingatkan kita bahwa harapan akan masa depan yang lebih baik hanya dapat diwujudkan jika kedaulatan dihormati, baik oleh kekuatan global maupun oleh rakyatnya sendiri.

Dunia kini berada di persimpangan jalan: melanjutkan pola destruktif yang telah ada, atau menciptakan tatanan baru yang lebih adil dan menghormati hak setiap negara untuk menentukan nasibnya sendiri. Suriah, Irak, dan Libya berhak mendapatkan yang lebih baik. Begitu pula dengan seluruh dunia.

Tantangan ke depan adalah bagaimana mencegah tragedi serupa terjadi di tempat lain, sambil membantu Suriah bangkit kembali. Namun, ini hanya mungkin jika ada perubahan paradigma global yang menghormati hak setiap negara untuk menentukan nasibnya sendiri. Tanpa itu, dunia hanya akan terus menyaksikan lingkaran kehancuran yang tak berkesudahan.

*Penulis adalah Direktur Moderation Corner, Jakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO