Iran Gunakan Malware untuk Serang Keamanan Siber Amerika-Israel

Iran Gunakan Malware untuk Serang Keamanan Siber Amerika-Israel Ilustrasi.

BANDUNG, BANGSAONLINE.com - Iran menggunakan serangan siber sebagai bentuk balasan utama setelah operasi militer gabungan Amerika-Israel.

Berdasarkan analisis perusahaan keamanan siber Anomali, Iran telah memobilisasi kelompok APT42 dan APT33 (MuddyWater) yang memiliki hubungan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps dan Kementerian Intelijen Iran.

SentinelOne juga memperkirakan kelompok yang berafiliasi dengan Iran akan menarget jaringan pertahanan, pemerintahan, dan intelijen Israel maupun Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.

Selain itu, taktik yang dinilai paling mungkin yaitu menggunakan wiper malware, yakini sebuah perangkat lunak berbahaya yang dibuat untuk menghapus data secara permanen dan melumpuhkan sistem komputer.

Kemudian, Iran juga memanfaatkan serangan distributed denial-of-service atau DDoS juga diperkirakan kembali digunakan untuk membanjiri layanan daring hingga tidak bisa diakses.

Hal ini, bukan hal baru bagi Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, aktor yang berkaitan dengan negara tersebut, pernah menargetkan infrastruktur penting dan sektor keuangan.

Namun demikian, sejumlah kelompok pro-Iran, membesar-besarkan klaimnya bahwa firma keamanan Sophos menilai mereka tetap merupakan aktor yang mampu dan berbahaya.

Lebih lanjut, Islamic Cyber Resistance Axis mengklaim melakukan sejumlah operasi terhadap target Israel, termasuk perusahaan pertahanan Rafael dan layanan deteksi drone VigilAir.

Kelompok tersebut juga dilaporkan berupaya merekrut pakar siber untuk "pertempuran epik" melawan Israel dan Amerika Serikat.

Di sisi lain, kelompok anti-Iran bernama Gonjeshke Darande atau Predatory Sparrow sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bank Sepah, pabrik baja Iran pada 2022, serta gangguan sistem SPBU pada 2023.

Kehadiran aktor non-negara ini memperumit situasi. Tidak seperti militer resmi, kelompok semacam ini sulit dikendalikan melalui jalur diplomatik dan sering kali beroperasi dengan agenda ideologis.

Firma keamanan Sophos mencatat bahwa meski beberapa klaim dibesar-besarkan, kelompok-kelompok ini tetap memiliki kemampuan teknis yang nyata. (rif)