Ilustrasi.
Namun demikian, sejumlah kelompok pro-Iran, membesar-besarkan klaimnya bahwa firma keamanan Sophos menilai mereka tetap merupakan aktor yang mampu dan berbahaya.
Lebih lanjut, Islamic Cyber Resistance Axis mengklaim melakukan sejumlah operasi terhadap target Israel, termasuk perusahaan pertahanan Rafael dan layanan deteksi drone VigilAir.
Kelompok tersebut juga dilaporkan berupaya merekrut pakar siber untuk "pertempuran epik" melawan Israel dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, kelompok anti-Iran bernama Gonjeshke Darande atau Predatory Sparrow sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bank Sepah, pabrik baja Iran pada 2022, serta gangguan sistem SPBU pada 2023.
Kehadiran aktor non-negara ini memperumit situasi. Tidak seperti militer resmi, kelompok semacam ini sulit dikendalikan melalui jalur diplomatik dan sering kali beroperasi dengan agenda ideologis.
Firma keamanan Sophos mencatat bahwa meski beberapa klaim dibesar-besarkan, kelompok-kelompok ini tetap memiliki kemampuan teknis yang nyata. (rif)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




