Joko Widodo (Jokowi). Foto: REUTERS/POOL
BANGSAONLINE.com - Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), salah satu organisasi jurnalisme investigasi terbesar di dunia, menjelaskan dasar-dasar yang membuat Presiden RI ke-7, Joko Widodo, masuk dalam finalis tokoh terkorup 2024.
Melalui rilis persnya, OCCRP menjelaskan nominasi tokoh terkorup berdasarkan saran dari masyarakat seluruh di dunia. Oleh sebab itu, OCCRP tidak bisa mengontrol siapa saja yang dinominasikan.
BACA JUGA:
- Tinggal PSI, Ketum Parpol Rame-Rame Tinggalkan Gibran pada Pilpres 2029
- Tertangkapnya Ebenezer dan Ironi Balas Budi Prabowo kepada Jokowi
- Heboh Gibran Tak Salami AHY, Bahlil, Cak Imin dan Zulhas, Ini Kata Puan
- Dampingi Wapres Tinjau Pabrik Beras di Ngawi, Khofifah: Jatim Kontributor Padi Tertinggi Nasional
Termasuk nominasi Joko Widodo (Jokowi) sebagai tokoh terkorup 2024. Berdasarkan penjelasan OCCRP, nama Jokowi masuk dalam finalis setelah memperoleh dukungan terbanyak secara online.
Selain itu, OCCRP juga membeberkan alasan-alasan lain masuknya Jokowi sebagai nominasi tokoh terkorup 2024.
"OCCRP tidak memiliki bukti bahwa Jokowi terlibat dalam korupsi untuk keuntungan finansial pribadi selama masa jabatannya. Namun, kelompok masyarakat sipil dan para ahli mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi secara signifikan melemahkan komisi antikorupsi Indonesia (KPK). Jokowi juga dikritik secara luas karena merusak lembaga pemilihan umum dan peradilan Indonesia untuk menguntungkan ambisi politik putranya (Gibran Rakbuming Raka), yang sekarang menjadi wakil presiden di bawah presiden baru Prabowo Subianto," ujar Drew Sullivan, Penerbit OCCRP, Kamis (2/1/2025).
Sullivan melanjutkan, bahwa para juri menghargai nominasi warga negara. "Tetapi dalam beberapa kasus, tidak ada cukup bukti langsung tentang korupsi yang signifikan atau pola pelanggaran yang sudah berlangsung lama," katanya.
"Namun, jelas ada persepsi yang kuat di antara warga negara tentang korupsi dan ini seharusnya menjadi peringatan bagi mereka yang dinominasikan bahwa masyarakat sedang memperhatikan, dan mereka peduli. Kami juga akan terus memperhatikan," imbuh Sullivan.
Keputusan akhir untuk penghargaan "Tokoh Tahun Ini" dibuat oleh para juri yang terdiri dari masyarakat sipil, akademisi, hingga jurnalis yang berpengalaman dalam menyelidiki korupsi dan kejahatan.
Tahun ini, penghargaan diberikan kepada Bashar al-Assad, mantan Presiden Suriah, meski tidak termasuk dalam nominasi terbanyak.
Peran Assad dalam mengacaukan Suriah dan kawasan melalui jaringan kriminal terbuka, pelanggaran hak asasi manusia yang signifikan, termasuk pembunuhan massal, dan korupsi, menjadikannya pilihan utama.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




