Joko Widodo (Jokowi). Foto: REUTERS/POOL
"Proses seleksi akhir OCCRP didasarkan pada penelitian investigasi dan keahlian kolektif jaringan kami," tegas Sullivan.
Penghargaan ini menyoroti sistem dan aktor yang memungkinkan terjadinya korupsi dan kejahatan terorganisasi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan kebutuhan berkelanjutan untuk mengungkap ketidakadilan.
Penting untuk dicatat, bahwa penghargaan ini terkadang disalahgunakan oleh individu yang ingin menyisipkan agenda atau ide politik mereka.
"Namun, tujuan dari penghargaan ini hanya satu: untuk memberikan pengakuan terhadap kejahatan dan korupsi-titik," ucapnya.
Sullivan menambahkan, bahwa OCCRP akan terus menyempurnakan proses nominasi dan seleksi, memastikan transparansi, dan inklusivitas.
"Selain itu, pelaporan kami akan tetap difokuskan pada dampak dari para nominasi dan pihak lain yang melanggengkan kejahatan dan korupsi, dengan menyoroti peran mereka dalam merusak demokrasi dan masyarakat di seluruh dunia".
Menurutnya, penghargaan tahun ini telah memicu keterlibatan global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal tersebut mencerminkan meningkatnya minat publik terhadap korupsi dan konsekuensinya yang luas.
Penghargaan ini menyoroti pentingnya misi OCCRP untuk mengungkap dan menyingkap kejahatan dan korupsi.
"Seiring dengan meningkatnya ancaman terhadap demokrasi, transparansi, dan kebebasan pers, OCCRP tetap berkomitmen untuk menyampaikan cerita yang menarik bagi khalayak dan memberikan wawasan kritis tentang kekuatan yang membentuk negara mereka," tutup Sullivan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




