Tafsir Al-Anbiya' 96-97: Ya'juj Wa Ma'juj yang Sesungguhnya

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Sementara Ya’juj wa Ma’juj, paling merampas makanan, ternak penduduk, dan sebangsanya.

Yang mengejutkan adalah keputusan pengadilan atas tindak korupsi itu, Malingnya hanya dihukum tiga tahun penjara dan denda lima ribu rupiah. Bukankah maling ini yang Ya’juj wa Ma’juj sesungguhya. Termasuk juga hakim pemutus. Ya, karena sudah pasti uang haram itu dibagi dan dinikmati bersama, seperti hasil rampasan Ya’juj wa Ma’juj yang dimakan barsama.

Lalu, markas Ya’juj wa Ma’juj ditutup oleh Raja Dzu al-Qarnain seperti dijelaskan pada surah al-Kahfi yang lalu. Mereka, hingga kini terkurung di dalamnya tanpa mampu keluar sampai nanti menjelang kiamat. Penjara alam tersebut hingga kini tetap misteri dan sengaja dibuat begitu oleh Tuhan.

Selanjutnya, pada ayat kaji ini dijelaskan, bahwa nanti mereka akan keluar dengan jumlah sangat banyak, ada di mana-mana seperti air banjir yang mengalir dan menggenangi daratan. “wahum min kull hadab yansilun”. Lalu, siapa yang bisa membendung air bah tersebut?

Karena ini akan terjadi pada menjelang hari akhir, maka itulah merupakan azab bagi mereka yang hidup saat itu. Mereka kufur dan terlena, mereka durhaka dan membelakangi Tuhan dan berakibat jauh dari rahmat-Nya.

Dan kiamat endingnya, penyesalan menimpanya dan tidak berguna pertobatannya. “Ya wailana qad kunna fi ghaflah min hadza bal kunna dzalimin”.

Kini persoalan justru menuju kepada tindakan manfaat yang dilakukan oleh sang raja adil dan pemberani, Dzu al-Qarnain. Ya’juj wa Ma’juj dikurung di antara dua lembah, ditutup kuat-kuat dengan cor-coran dari besi mendidih nan cair. Sangat kokoh dan dunia menjadi aman seperti yang kita saksikan sekarang.

Untuk itu, menghadapai Ya’juj wa Ma’juj modern di negeri tercinta ini adalah, sungguh sangat dibutuhkan pemimpin super adil, tegas, kuat dan berani membuntu semua ruang gerak Ya’juj wa Ma’juj negeri ini. Di manapun ruang itu ada dan seberapa pun.

Ingatlah, bahwa kehancuran dan amblasnya aset negeri ini sudah sangat melampaui batas. Bisa dibilang, negeri ini termasuk kelas atas negara dengan pejabat terkorup. Maka rakyat sangat menunggu presiden yang berani menghukum mati koruptor, menghabisi mereka tanpa ragu, tanpa takut Bank Dunia, tanpa takut IMF, tanpa takut HAM, dan lain-lain.

Negeri ini mayoritas berpenduduk muslim. Ada Majelis Ulama’, ada NU, Muhammadiyah, al-Irsyad, Jamiyah al-Wasliyah, dan lain-lain. Ribuan ahli agama, penghafal Al-Qur’an, pondok pesantren, perguruan tinggi agama islam, kiai, profesor dan lain-lain.

Mereka sangat percaya adanya Allah SWT sebagai Tuhan yang maha kuasa yang melindungi negeri ini, jika penguasanya benar-benar menuruti kehendak-Nya. Seperti dulu Tuhan menganugerahi negeri ini bisa merdeka dari penjajahan. Itu semua karena kesungguhan para pejuang dan keikhlasan mereka, meskipun persenjataan rakyat sangat tidak seimbang dengan persenjataan penjajah.

Dan sebagai renungan: Presiden RRC yang kafir, tidak kenal Al-Qur’an, tidak kenal al-Hadis, tidak membaca kitab kuning, tidak puya MUI, tidak didukung para kiai saja, berani menghukum mati koruptor dan tuntas. Hasilnya sungguh luar biasa dan membuat RRC negara besar dan bermartabat, maju dan kaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO