Pendiri RGS-SQ, H Moh Khozin bersama Cawabup, Moh Qosim ketika lakukan pertemuan dengan kiai dan santri di Sidayu. foto: syuhud/BANGSAONLINE
Jika sebelumnya, mereka kebanjiran tunjangan. Namun, pada saat SQ menjabat, tunjangan itu dihembuskan oleh rival SQ, dihapuskan. "Isu itu sangat menyesatkan. SQ tidak pernah menghapuskan tunjangan untuk guru tersebut. Karena aturan yang tidak memerbolehkan," jalasnya.
Ditegaskan Khozin, pada awalnya pemerintah diperbolehkan memberikan kesejahteran baik berupa bantuan, dan insentif guru dan lainnya. Namun, setelah turunnya Permendagri (peraturan dalam negeri) Nomor 32 tahun 2011, tentang bantuan sosial dan hibah, hal itu tidak diperbolehkan lagi.
"Bukannya SQ tidak mau memberikannya. Tapi, dilarang aturan. Kan logikanya tidak mungkin dengan kekuatan APBD (2015) sebesar Rp 2,89 triliun, SQ tidak mau meningkatkan kesejahteraan para pengajar yang menjadi pandidik para generasi Gresik," terangnya.
Karena itu, tambah Khozin, RGS-SQ telah menginstruksikan kepada semua RGS di kecamatan dan kordes (kordinator desa) untuk memprotek isu-isu negatif yang menyesatkan dengan cara memberikan pencerahan kepada masyarakat, kalau isu itu tidak benar.
"Hasilnya, Alhamdulillah, masyarakat tetap percaya kepada SQ. Dan, kami optimis SQ akan tetap menang di atas 60 persen di setiap desa pada Pilkada 9 Desember mendatang," pungkas pengusaha kaya asal Peganden, Manyar ini. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




