Umat Hindu keturunan Madura di Dusun Bongso Wetan, Gresik, ketika mengarak ogoh-ogoh keliling dusun pada malam perayaan Hari Raya Nyepi 1947. Foto: Ist
"Sebelum arak-arakan ogoh-ogoh dilakukan umat Hindu keturunan Madura pada malam hari menggelar ritual menaburkan kemenyan di atas arang," ucapnya.

Umat Hindu keturunan Madura di Dusun Bongso Wetan, Gresik, saat membuat ogoh-ogoh untuk rayakan hari raya Nyepi. Foto: Ist
Kemudian, upacara diikuti barisan perempuan dengan menyunggi sesaji yang di belakangnya terdapat beragam ogoh-ogoh berbagai ukuran. Para perempuan sebagian besar memakai kebaya dan jarit dari bahan batik khas Madura.
Ki Wongso sapaan akrab Wongso Negoro menyatakan, kostum yang dikenakan para peserta laki-laki dari usia anak-anak hingga dewasa dan orang tua mengenakan perpaduan kaos sakerah, dengan motif garis-garis warna merah-putih, serta bawahan batik khas Madura, bersama udeng.
"Ogoh diarak keliling dusun dengan diiringi musik sebagai simbol agar tidak mengganggu, karena ogoh-ogoh merupakan simbol sifat jelek," tuturnya.
Dijelaskan olehnya, saat arak-arakan ogoh-ogoh pada malam Hari Raya Nyepi 2025 bertepatan dengan umat muslim (Islam) tengah menjalankan puasa Ramadhan.
Karena itu, saat arak-arakan melewati masjid atau tempat ibadah umat Islam yang tengah menjalankan tarawih dan kegiatan keagamaan, peserta arak-arakan pun mematikan musik dan berjalan dengan tenang.
"Ini sebagai simbol kami menjaga toleransi terhadap sesama antarumat beragama," kata Ki Wongo.
Usai ogoh-ogoh diarak keliling dusun, ogoh-ogoh kembali dibawa ke Pura Kertabumi, kemudian dilakukan Pralina (pembakaran).
"Ogoh-ogoh dibakar sebagai simbul membakar sifat jahat, keangkara murkaan dan hal-hal buruk," ucap Ki Wongo.
Dalam rangkaian merayakan Nyepi umat Hindu keturunan Madura juga melakukan ritual Melasti, yaitu mengambil air dari 3 sumber mata air, yakni dari Pantai Kenjeran, Surabaya; Jolotundo, Trawas, Pacet, Mojokerto; dan Dusun Bongso Wetan, Desa Pengalangan.
"Air dari tiga sumber mata air itu kami bawa ke Pura Kertabumi kemudian kami gabungkan. Di pura komunitas Hindu Madura juga memanjatkan doa, ada yang dengan bahasa Madura dan Sangsekerta," urai Ki Wongso. (hud/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




