Tafsir Al-Anbiya' 107: Nabi Muhammad Buyarkan Mitos Tsaniyah al-Wada'

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Rute hijrah yang ditempuh sungguh membuat dunia berdecak kagum dan mata membelalak kosong tak mengerti apa yang dilihat. Betapa Rasulullah SAW tidak menempuh jalur umum seperti yang dikenal penduduk setempat. Justru melalui Tsaniya Wada’. Apa itu?

Adalah gupitan, jalan setapak yang serem dan berliku berada di antara dua pegunungan bebatuan yang teramat curam dan berhimpitan. Posisinya di luar kota Madinah.

Wada’ artinya perpisahan, meninggalkan, sayonara. Maksudnya, siapa pun yang berani lewat situ, maka dipastikan sebagai akhir kehidupannya dan selamat tinggal dan tak mungkin kembali, alias mati.

Hal itu karena dua alasan populer: Pertama, menurut para normal dan dukun-dukun setempat, tsaniyah wada’ adalah pusat kerajaan jin jahat dan tidak mengenal kompromi. Mereka sangat tega dan kasar. Sama sekali wilayahnya tak boleh diusik dan kedamaiannya tak mau diganggu.

Kedua, tsaniya wada’ adalah tempat persembunyian para penjahat, begal, perampok, dan para penyamun tega. Mereka sangat menjaga tempat itu sehingga tetap angker dan menakutkan. Pamornya tak boleh luntur sehingga kejahatan mereka terlindungi dan terus operasi.

Saat penduduk Madinah memusatkan pandangan ke jalur umum menunggu kemunculan Rasulullah SAW bersama rombongan, mereka tidak mendapatkan bayangan hitam ada di kejahuan. Justru ketika mengalihkan pandangan ke arah Tsaniyah Wada’, bukan main terkejutnya karena nyata-nyata Rasulullah ada di jalur itu.

Spontan bergemuruhlah umat, beramai-ramai meneriakkan syair “thala al-badr ‘alaina min tsaniyya al-wada’…” dan seterusnya dengan iringan rebana cewek-cewek Madinah yang dipukul serempak, serasi, berirama, dan sangat mengharukan.

Dan di sudut lain, kalangan jawara-jawara setempat pada berbisik, tertegun, dan hanya bisa bergeleng kepala. Bagaimana mungkin ada orang lewat di Tsaniyah al-Wada’ bisa kembali selamat. Baru kali ini, demi Tuhan baru kali ini.

Waw, Muhammad sungguh jagoan dan dialah satu-satunya orang yang bisa membuyarkan mitos yang selama ini kita takuti.

Muhammad sungguh utusan Tuhan beneran dan tidak main-main. Jin dan syetan jahat tak berkutik apa-apa di hadapannya. Secara tidak langsung, dia telah menunjukkan kesaktiannya di hadapan para Jawara Madinah.

Usai tiba di Madinah dan mereka bersantai, Abdullah ibn Uraiqidh berkisah. Dia adalah sang pemandu perjalanan hijrah tersebut. Ibn ‘Uraiqidh adalah seorang Yahudi yang belum beriman, tetapi sangat jujur dan sangat paham jalan tikus di padang pasir. Maka di arahkan ke jalan pintas dengan rute aneh.

Katanya, kami bertiga: “saya, Abu Bakar, dan RasulullahSAW benar-benar sangat kehausan dan tidak ada air setetes pun. Lalu berpapasan dengan penggembala kambing dan kita permisi meminta air susunya, meski seteguk untuk membasahi tenggorokan”.

Penggembala itu menjawab: “Tuan, kami juga tidak membawa perbekalan air minum dan seperti yang tuan saksikan, bahwa kambing-kambing ini masih muda-muda kan kecil-kecil. Bagaimana mungkin bisa keluar ais susu, mohon maaf.”

Rasulullah SAW mendekat dan berkata: “Saudaraku.. Asal saudara memberi izin, aku akan memerahnya dan semoga bisa keluar air susunya.”.

Dan si penggembala memepersilakan. Dengan izin Allah SWT, Rasul mulia itu mulai memerah dan keluarlah air susu secara berlimpah, ajaib dan segar. Sang pemandu Yahudi tersebut, akhirnya memeluk islam. Muhammad ibn Abdillah SAW sungguh Rasul Rahmah li al-Alamin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Pandemi, Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto Ajak Anggotanya Peduli Sesama':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO