Tampak petugas laboratorium menguji sampel ompreng makanan bergizi gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Samarinda Ulu 2 di Samarinda, Kalimantan Timur(27/8/2025). Pengujian ompreng tersebut sebagai respon terhadap infomasi yang menyebutkan bahwa ompreng yang berasal dari Chaoshan, China, mengandung bahan-bahan berbahaya dan minyak babi. Foto: Antara/M Risyal Hidayat/Tempo
JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Pemerintah sangat lamban merespons kasus ompreng makan bergizi gratis (MBG) yang diduga mengandung minyak babi. Bahkan hasil uji laboratorium yang sudah rampung pun masih belum diumumkan ke publik. Justru Sekretaris Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahldatul Ulama (NU) Jakarta Wafa Riansah yang mengumumkan hasil uji laboratoriumnya yang menyebutkan secara gamblang bahwa proses pembuatan ompreng MBG itu mengandung minyak babi.
Padahal kasus ini sangat meresahkan para orang tua atau wali murid.
BACA JUGA:
- Perkuat Fungsi Kontrol, Wakil Ketua BGN Minta Masyarakat Aktif Awasi Menu dan Harga
- Kejagung-BGN Launching Aplikasi "Jaga Dapur MBG", Masyarakat Bisa Langsung Lapor Keluhan Program
- Wali Kota Malang Resmikan SPPG Sukoharjo 2, Padukan Heritage dengan Teknologi Modern
- Respons Viralnya Lele Mentah, Satgas MBG Pamekasan Minta Sekolah Laporkan Menu Tak Layak
"Saya mendesak BPOM dan BGN untuk segera mengumumkan ke publik hasil uji ompreng diduga mengandung minyak babi," tegas Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Muhammad Yahya Zaini mendesak dikutip Tempo, Rabu (17/5/2025).
Menurut Yahya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Gizi Nasional (BGN) bisa mengumumkan hasil uji itu tanpa menunggu Istana Kepresidenan.
Seperti diberitakan, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan lembaganya sudah mengantongi hasil uji laboratorium ompreng MBG. Namun, dia mengaku tidak bisa mengumumkan hasilnya karena pihak yang bertanggung jawab untuk itu adalah Kantor Komunikasi Kepresidenan.
Yahya Zaini mengaku tak sepakat dengan itu sebab ia menilai Kantor Komunikasi Kepresidenan tidak berkaitan langsung dengan hasil uji ompreng MBG. Karena itu Yahya mendorong agar BPOM dan BGN berinisiatif menyampaikan hasil pengujian wadah MBG.
"Supaya masyarakat tidak ragu serta merasa nyaman dan aman mengikuti program MBG. Sekarang masyarakat galau dengan isu ompreng mengandung lemak babi," ujar polisi Golkar asal Bawean Gresik Jawa Timur itu.
Kasus ompreng mengandung minyak babi itu mencuta sejak satu bulan lalu. Tepatnya pertengahan Agustus 2025 lalu. Peristiwa itu mencuat bermula dari laporan Indonesia Business Post yang melakukan investigasi di wilayah Chaoshan, bagian timur Provinsi Guangdong, Cina, yang diduga merupakan importir ompreng untuk program MBG.
Mereka menemukan pabrik tersebut memalsukan label "Made in Indonesia" dan logo SNI pada ompreng yang sebenarnya diproduksi di Cina. Ompreng tipe 201 ini juga diduga mengandung mangan (logam berwarna putih keabu-abuan) yang tinggi dan tidak cocok untuk makanan asam. Selain itu, ditemukan indikasi adanya penggunaan minyak babi atau lard dalam ompreng yang diproduksi.
Berbeda dengan pernyataan BPOM, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan tak tahu hasil uji sampel ompreng atau wadah makan bergizi gratis yang diduga mengandung lemak babi. “Belum dapat laporan resmi,” kata Dadan lewat pesan tertulis pada Selasa, 16 September 2025.
Sebelumnya, Dadan mengatakan bahan baku minyak memang digunakan dalam proses pembuatan ompreng MBG. Ia berdalih, minyak tersebut hanya digunakan pada mesin saat stamping atau proses membentuk lembaran atau gulungan logam menjadi bentuk yang diinginkan. “Bahan food tray kombinasi kromium dan nikel. Minyak digunakan pada mesin saat stamping, bukan pada food tray,” kata Dadan, pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Sekretaris Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI) Jakarta, Wafa Riansah, mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium di Cina menunjukkan adanya penggunaan minyak babi dalam produksi ompreng atau food tray untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




