Berbeda dari sistem transfer bank, proses pencairan dana dilakukan secara langsung di balai desa masing-masing untuk memudahkan para guru ngaji, terutama mereka yang tinggal di daerah pelosok.
Bahkan, bagi yang sedang sakit atau tidak bisa hadir, tim dari Bank Jatim siap mengantar langsung ke rumah penerima.
“Sesuai arahan Gus Bupati, kami ingin penyaluran ini dilakukan secara terhormat. Tidak perlu antre di bank, tidak perlu repot. Kami yang datang ke mereka,” ujar Hafid.
Untuk mendukung kelancaran program ini, Pemkab Jember juga telah membuka rekening khusus bagi setiap guru ngaji, tanpa syarat setoran awal dan bebas biaya administrasi.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada hambatan teknis atau penyalahgunaan dana.
Selain menerima insentif sebesar Rp1,5 juta per tahun, para guru ngaji juga mendapatkan manfaat tambahan berupa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang mencakup jaminan kecelakaan kerja dan kematian.
Tak hanya itu, beasiswa pendidikan bagi anak-anak guru ngaji serta layanan kesehatan gratis melalui skema UHC juga diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah.
“Program ini bukan sekadar soal uang. Ini bentuk penghormatan kami terhadap peran besar guru ngaji dalam membangun moral dan karakter masyarakat Jember,” ungkap Hafid. (nga/yud/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




