Mempertanyakan Sentimen Xpose Trans7 terhadap Subkultur Pesantren

Mempertanyakan Sentimen Xpose Trans7 terhadap Subkultur Pesantren Aguk Irawan. Foto: istimewa

Sekali lagi, tayangan Xpose tersebut tidak memperhatikan aspek spiritualitas tersebut. Malahan, tradisi-tradisi tersebut ditampilkan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak relevan dengan kehidupan modern. Karena itu mereka menganggap wajar untuk mengolok-olok. Dengan demikian mereka menunjukkan kurangnya pemahaman tentang sub kultur pesantren dan doktrin ta'lim Islam yang menekankan pentingnya spiritualitas dan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam buku "Fiqh Sunnah" karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa "sunnah adalah jalan yang lurus yang membawa manusia kepada Allah". (Sabiq, 2004). Menurut Sabiq tradisi-tradisi (urf) adalah bagian dari "sunnah" yang harus dipahami dan dijalankan dengan benar, selagi tidak bertentangan dengany tauhid.

Oleh karena itu, penting bagi media untuk memahami konteks budaya dan antropologi kebudayaan sebelum menampilkan tradisi-tradisi yang unik dan berbeda. Dengan demikian, kita dapat mempromosikan pemahaman dan toleransi yang lebih baik terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

Dalam mengkritisi tayangan Xpose tersebut, saya tidak bermaksud untuk membela secara apriori pada tradisi-tradisi yang mungkin dianggap kuno atau tidak relevan. Namun, saya ingin menekankan pentingnya memahami konteks budaya dan antropologi kebudayaan sebelum menampilkan tradisi-tradisi yang unik dan berbeda.

Dengan demikian, kita dapat mempromosikan pemahaman dan toleransi yang lebih baik terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Kita harus belajar untuk memahami dan menghargai perbedaan, bukan mempertebal stereotip dan prasangka.

Dalam buku "Ta'lim al-Muta'allim" karya Azzarnuji, disebutkan: "Ketahuilah, bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan memperoleh manfaat darinya kecuali dengan menghormati ilmu dan orang-orang yang menuntut ilmu, serta menghormati gurunya yanh memberinya ilmu." Jadi tradisi-tradisi tersebut merupakan bagian dari upaya menghormati guru dan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, mari kita memahami dan menghargai tradisi-tradisi tersebut dengan konteks budaya dan antropologi kebudayaan yang tepat. Kita harus belajar untuk memahami dan menghargai perbedaan, bukan mempertebal stereotip dan prasangka. (Aguk Irawan) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO