Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob saat memaparkan kinerja perusahaan dalam talk show di ajang PIQI 2025. FOTO: ist.
"Pabrik ini dapat memproduksi NPK dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga dapat memastikan ketersediaan pupuk nasional dengan kualitas unggul, sekaligus meningkatkan omzet serta daya saing bagi Petrokimia Gresik," jelas Daconi.
Adapun implementasi inovasi ini memberikan dampak positif bagi perusahaan. Dari segi kualitas, pupuk NPK dan pupuk fosfat yang dihasilkan sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Dari aspek biaya, inovasi ini menghilangkan potensi kerugian Rp 8,92 miliar setiap bulan atau Rp 107,1 miliar per tahun akibat kehilangan produksi pupuk fosfat.
Sebaliknya, inovasi ini menghasilkan keuntungan langsung bagi perusahaan sebesar Rp 175,86 miliar per tahun dari produksi pupuk NPK dan pupuk fosfat yang sebelumnya tidak dapat dilakukan.
Selain itu, inovasi ini memberikan value creation kepada perusahaan sebesar Rp 23,1 miliar serta memberikan penghematan biaya investasi proyek dengan skema swakelola senilai Rp 28,2 miliar.
"Secara keseluruhan, Teknologi Flex-Phos tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya operasional, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi pupuk di dalam negeri. Dengan demikian, inovasi ini berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional melalui peningkatan ketersediaan pupuk, khususnya pupuk bersubsidi yang lebih stabil dan berkelanjutan," pungkas Daconi.
Sementara itu, PIQI 2025 merupakan wadah bagi Pupuk Indonesia untuk memberikan apresiasi para inovator berprestasi di Pupuk Indonesia Grup.
Ajang tahunan ini sekaligus menjadi media untuk solusi inovatif Pupuk Indonesia Grup kepada publik dan calon mitra strategis, serta menegaskan Pupuk Indonesia sebagai BUMN yang berbasis inovasi. (hud/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




