Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi.
BANGSAONLINE.com - DPP GMNI menilai kebijakan hilirisasi industri yang dijalankan pemerintah sejak 2010 hingga kini belum mencerminkan arah industrialisasi nasional yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Penilaian itu disampaikan sebagai evaluasi kritis terhadap pembangunan ekonomi yang dinilai masih bertumpu pada investasi asing dan ekspor produk bernilai tambah rendah.
BACA JUGA:
Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi, menegaskan hilirisasi seharusnya memperkuat rantai nilai industri secara menyeluruh, mulai dari penguasaan bahan baku hingga kedaulatan teknologi dan hubungan industrial yang adil.
“Hilirisasi kita masih bersifat kuantitatif dan transaksional, mengejar angka investasi dan ekspor, tetapi lemah dalam membangun kedaulatan teknologi, kapasitas industri nasional, dan perlindungan tenaga kerja,” ujarnya.
Dalam catatan GMNI, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) stagnan di kisaran 18-19 persen pada 2023, jauh menurun dibanding awal 2000-an yang mencapai lebih dari 30 persen.
Produk hilir yang dihasilkan sebagian besar masih setengah jadi dan belum masuk rantai produksi berteknologi tinggi.
GMNI juga menyoroti dominasi modal besar dan asing dalam sektor strategis, lemahnya transfer teknologi, serta minimnya pusat riset nasional.
Ketergantungan pada teknologi dari China dan Jepang masih kuat, sementara keterampilan tenaga kerja lokal tidak mengalami peningkatan signifikan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




