Hadiri Satu Abad NU di Denpasar, Kiai Asep Perkuat Moderasi Islam Gus Dur di Bali

Hadiri Satu Abad NU di Denpasar, Kiai Asep Perkuat Moderasi Islam Gus Dur di Bali Suasa Harlah Satu Abad NU Tahun Masehi yang dikemas dalam acara Silaturahim Alim Ulama & Santri se-Provinsi Bali di Pendopo Khalifa Denpasar Bali, Ahad (8/2/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan

DENPASAR, BANGSAONLINE.com – Pendopo Khalifa Denpasar Bali penuh dengan warga NU sejak pagi, Ahad (8/2/2026). Sekitar 350 aktivis dan warga NU memenuhi bangunan berarsitektur tradisional yang asri itu. Mereka duduk lesehan. Penuh kekeluargaan.

Para tokoh NU - terutama PW Pergunu dan JKSN Bali - menggelar Harlah Satu Abad NU Tahun Masehi. Harlah NU itu dikemas dalam acara Silaturahim Alim Ulama & Santri se-Provinsi Bali. Banyak tokoh dan ulama yang hadir. Antara lain Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, yang sekaligus menyampaikan taushiyah.

Kiai Asep hadir bersama rombongan. Antara lain Wakil Ketua Umum PP Pergunu Prof Dr Fadly Usman, Sekjen JKSN Muhammad Ghofirin dan CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE M. Mas'ud Adnan.

Pantauan BANGSAONLINE di arena acara, hadir Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji (Kemehaj) Provinsi Bali Dr. H. Mahmudi, S.Ag., MA, Sekjen Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Dr Aris Adi Leksono dan Ketua PW Pergunu Bali Drs H. Makhfud, MA.

Pelantikan JKSN Provinsi Bali. Foto: bangsaonline

Tampak juga pengurus Banom NU seperti Muslimat NU, Ansor dan Pergunu. Sementara Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyampaikan sambutan yang dibacakan oleh pejabat Bakesbangpol Provinsi Bali.

Dalam acara Satu Abad NU itu juga digelar pelantikan pengurus Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Provinsi Bali yang diketuai oleh H. Moh Maimun Noor, M.Pd (Gus Maimun). Pengurus PW JKSN Bali itu dilantik oleh Sekjen JKSN Muhammad Ghofirin, M.Pd.

Umat Islam di Bali minoritas. Sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Bali yang berjumlah sekitar 4,5 juta jiwa. Namun warga NU tumbuh subur dan lebih diterima oleh warga Bali yang beragama Hindu.

“Terutama karena faktor Gus Dur,” ujar salah seorang yang hadir dalam acara itu.

“Orang Bali menyebut nak Islam Gus Dur,” tambah aktivis NU tersebut.

Ketokohan Gus Dur yang humanis, ramah, toleran, dan menghargai budaya lokal menjadi simbol moderasi dan toleransi warga NU. Apalagi semasa hidupnya Gus Dur banyak membela kelompok marginal yang teraniaya.

Gus Dur juga mendekati raja-raja dan tokoh adat di Bali, menitipkan umat Islam agar diterima dan hidup berdampingan dengan damai.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline.

Bahkan di Ashram Gandhi Puri, Klungkung, ada ruangan "Gus Dur Bhavan" yang menyimpan barang peninggalan cucu pendiri NU Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ar itu, termasuk patung Gus Dur yang dihormati.

Nah, taushiyah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dalam acara Silaturahim Alim Ulama & Santri se-Provinsi Bali di Pendopo Khalifa Denpasar Bali memperkuat sikap moderat dan toleransi NU. Menurut Kiai Asep, para ulama pendiri NU berwatak moderat. Terutama Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Al-mudharah minal iman, moderasi itu bagian dari iman,” ujar Kiai Asep mengawali taushiyahnya.

Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh selalu menekankan persatuan.

“Karena tanpa persatuan sulit dicapai kemerdekaan Indonesia,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.

Kiai Asep menceritakan saat KH Abdul Wahab Hasbullah berinisiatif mendirikan NU. Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh tak langsung merespons atau menyetujui. Tapi butuh sepuluh tahun untuk berpikir karena khawatir justru mengganggu persatuan yang telah beliau bangun. Saat itu Hadratussyaikh sudah muncul sebagai ulama terkemuka dan bahkan kemudian dijuluki sebagai bapak umat Islam.

Menurut Kiai Asep, semula kiai-kiai muda NU masuk Sarekat Islam (SI) yang dipimpin HOS Tjokroaminoto. Termasuk dua kiai pendiri NU yaitu KH Abdul Wahab dan KH Abdul Chalim, ayahanda Kiai Asep. Bahkan Kiai Abdul Chalim inilah yang menulis pengantar buku Tjokroaminoto.

Sekedar informasi, Sarekat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto berdiri pada 10 September 1912. Pada tanggal tersebut, Tjokroaminoto mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI) di Surabaya untuk memperluas cakupan organisasi dari sekadar ekonomi menjadi pergerakan politik dan sosial.

“Tapi paham keagamaan Tjokronoaminoto condong ke Khilafah,” ujar Kiai Asep.

Karena itu Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim kemudian mengundurkan diri dari SI secara baik-baik.

“Karena kalau Khilafah sulit membangun persatuan,” tutur Kiai Asep.

Kiai Wahab Hasbullah kemudian mendirikan Nahdlatul Wathan pada 1916.

“Nahdlatul Wathan itu lembaga pengkaderan NU,” tutur Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, Kiai Abdul Chalim kemudian banyak menjadi mediator dalam proses komunikasi Kiai Abdul Wahab dengan Hadratussyaikh. Sampai akhirnya Hadratussyaikh merestui Kiai Wahab Hasbullah mendirikan NU.

Tapi Kiai Wahab sendiri, menurut Kiai Asep, mendirikan NU juga dengan syarat Hadratussyaikh berkenan memimpinnya. “Kata Kiai Wahab, yang mimpin organisasi ini harus guru saya, yaitu Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari,” ujar Kiai Asep.

Karena itu formasi kepemimpinan PBNU perdana terdiri dari Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar Syuriah PBNU, KH Ahmad Dahlan Achyad Wakil Rais Akbar, Haji Hasan Gipo Ketua Tanfidziyah, Kiai Abdul Wahab Katib Awal dan Kiai Abdul Chalim Katib Tsani.

Menurut Kiai Asep, ada dua tujuan para ulama pesantren mendirikan NU. Pertama, untuk mengawal dan mengembangkan paham Ahlussunnah Waljamaah (Awaja).

Kebetulan, tutur Kiai Asep, terjadi gejolak politik di Haramain atau Hijaz. Abdul Aziz Ibnu Saud mengkudeta Raja Syarif Husain. Abdul Aziz secara keagamaan diback up oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang kemudian mengembangkan ajaran Wahabi.

Saat itulah terjadi penghancuran situs-situs Islam. Bahkan makam Rasulullah hampir saja dihancurkan oleh Raja Abdul Aziz.

Menurut Kiai Asep, Raja Abdul Aziz bernafsu menghancurkan situs-situs Islam bukan semata pertimbangan ajaran Wahabi untuk pemurnian Islam tapi juga ada unsur atau tendensi politik.

“Karena Raja Syarif Husain itu dzurriyah Nabi,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu.

Menurut Kiai Asep, Raja Abdul Aziz khawatir situs-situs Islam – termasuk makam Nabi Muhammad – menimbulkan mahabbah atau kecintaan rakyat Haramain kepada Raja Syarif Husain yang memang dzuriah Rasulullah. Karena itu situs-situs Islam yang penuh historis dihancurkan.

Menurut Kiai Asep, selain menghancurkan situs-situs Islam, Ibnu Saud juga memberangus ajaran Islam yang tak sesuai dengan Wahabi. Termasuk Madzhab Imam Syafii dan lainnya. Karena itu para ulama pesantren sepakat mengirim delegasi untuk menemui Raja Abdul Aziz agar raja yang baru bertahta itu tidak menghancurkan makam Nabi dan memberangus madzahhibul arba’ah.

Namun dalam rapat Komite Hijaz di Surabaya itu muncul pertanyaan delegasi itu atas nama apa. “Kalau atas nama Komite Hijaz tak mungkin ditemui oleh Raja Abdul Aziz,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Maka saai itulah disepakagi atas nama Nahdlatul Ulama.

“Yang kedua, NU didirikan untuk kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.

Menurut Kiai Asep, jauh sebelum Indonesia merdeka pondok pesantren menjadi pusat pemberontakan tehadap penjajah Belanda. Tapi mereka selalu gagal karena perjuangan mereka terpecah-pecah alias sendiri-sendiri.

“Ketika NU berdiri Belanda sudah merasa bahwa bangsa ini akan merdeka karena selama para pimpinan pesantren inilah yang selalu melakukan perlawanan. Maka ketika mereka bersatu dalam NU mereka pasti bisa memerdekakan bangsanya,” ujar Kiai Asep.