Rukyat di Era Astronomi Modern: Teguh pada Nash, Terbuka pada Sains

Rukyat di Era Astronomi Modern: Teguh pada Nash, Terbuka pada Sains Prof Dr Sofiyullah Muzammil. Foto: dok. pribadi

Oleh: Shofiyullah Muzammil**

YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, perbedaan penetapan awal bulan hijriyah kembali menjadi diskursus publik. Di tengah kecanggihan teleskop dan kalkulasi astronomi presisi tinggi, muncul pertanyaan: masih relevankah rukyat—pengamatan hilal secara langsung—dipertahankan?

Sebagian kalangan menganggap hisab (perhitungan astronomi) sebagai jawaban final atas problem perbedaan. Namun jika persoalan ini dibaca melalui pendekatan qirā’ah mu‘āṣirah fī al-aḥkām—sebuah kerangka baca yang saya kembangkan sebagai ikhtiar akademik dalam meraih Guru Besar di bidang Filsafat Hukum Islam—maka ruang analisisnya menjadi lebih komprehensif dan reflektif.

Dalam kerangka qirā’ah mu‘āṣirah fī al-aḥkām, pertanyaan kuncinya bukan sekadar “mana yang lebih modern?”, melainkan “apa tujuan syariat dan bagaimana cara paling aman menjaganya?”. 

Ru’yah dalam hadis tidak hanya dibaca sebagai prosedur teknis, tetapi juga sebagai bagian dari legitimasi syar’i yang eksplisit. Karena itu, rukyat justru menemukan relevansi baru: bukan sebagai metode kuno yang kalah oleh teknologi, melainkan sebagai pilihan yang tetap rasional secara ilmiah (karena berbasis observasi empiris) dan kokoh secara fiqh (karena berlandaskan nash yang tegas)

Sabda Nabi Muhammad SAW menjadi fondasi utama: “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Secara tekstual, hadis ini menggunakan kata ru’yah (melihat). Dalam fiqh klasik, mayoritas ulama memahaminya sebagai pengamatan langsung terhadap hilal. Namun pendekatan qirā’ah mu‘āṣirah fī al-aḥkām tidak berhenti pada literalitas, melainkan bertanya: apa tujuan dari perintah tersebut?

Tujuan syariat dalam penentuan awal bulan adalah memastikan masuknya waktu ibadah secara sah dan kolektif. Rukyat pada masa Nabi adalah metode paling akurat dan dapat diverifikasi secara sosial. Pertanyaannya, apakah dengan hadirnya , metode ini otomatis gugur? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Sains Tidak Bertentangan dengan Rukyat

Sering kali hisab diposisikan sebagai metode ilmiah, sedangkan rukyat dianggap tradisional. Dikotomi ini tidak benar. Rukyat modern bukan lagi sekadar pengamatan mata telanjang. Ia melibatkan teleskop presisi tinggi, kamera CCD, hingga pengolahan citra digital.

Secara ilmiah, ada perbedaan antara posisi geometris bulan dan keterlihatan aktualnya. Hisab mampu menghitung koordinat bulan dengan sangat akurat, tetapi visibilitas hilal tetap dipengaruhi oleh faktor atmosfer, polusi cahaya, dan kondisi optik lokal. Karena itu, dalam astronomi sendiri dikenal perbedaan antara predicted visibility dan actual observation.

Rukyat justru berbicara tentang realitas observasional. Ia memverifikasi teori dengan fakta lapangan. Dalam tradisi ilmiah, observasi adalah fondasi metode . Dengan demikian, mempertahankan rukyat tidak berarti menolak ; justru ia selaras dengan prinsip empiris.

Dalam kajian ushul fiqh, perdebatan penting adalah apakah ru’yah bersifat ta‘abbudi (ibadah murni yang mengikuti teks) atau ta‘aqquli (rasional yang bisa berubah metodenya). Mayoritas ulama klasik cenderung memposisikannya sebagai bagian dari ketentuan yang diikat teks.

Pendekatan qirā’ah mu‘āṣirah fī al-aḥkām tidak serta-merta menggeser posisi itu, tetapi menempatkan rukyat dalam kerangka maqashid syariah. Rukyat menjaga kepastian waktu ibadah, sekaligus menjaga kehati-hatian (ihtiyath) dalam perkara ritual. Ia juga memiliki dimensi syiar: menghidupkan interaksi umat dengan tanda-tanda kosmik.

Mengganti sepenuhnya rukyat dengan hisab berarti memindahkan dasar legitimasi dari observasi kolektif ke kalkulasi teknis. Ini bukan sekadar perubahan alat, tetapi pergeseran epistemologis.

Persatuan Tidak Otomatis Lahir dari Hisab

Negara-negara yang dikenal pro-hisab ternyata tidak otomatis memiliki keseragaman kalender. Turkey menggunakan hisab astronomi global-visibility: jika hilal secara teori mungkin terlihat di suatu tempat di dunia sebelum tengah malam GMT, maka bulan baru dimulai. 

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO