Hadapi Perubahan Iklim, Solusi Bangun Indonesia (SBI) Hadirkan Teknologi Stabilisasi Tanah Modern

Hadapi Perubahan Iklim, Solusi Bangun Indonesia (SBI) Hadirkan Teknologi Stabilisasi Tanah Modern Penandatanganan kesepakatan kerja sama bisnis antara PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dan Taiheiyo Cement Corporation di Tokyo, Jepang, 27 Januari 2026, untuk pengembangan solusi stabilisasi tanah di Indonesia.

TUBAN – Meningkatnya curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi ketahanan infrastruktur di Indonesia. Karakteristik tanah lunak, seperti gambut dan lempung yang mencakup sekitar 10% daratan Indonesia, sangat rentan terhadap fenomena tanah bergerak, retak, hingga penurunan permukaan saat kadar air meningkat.

Merespons kondisi tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) memperkuat posisinya sebagai pelopor pembangunan infrastruktur tangguh iklim melalui pengembangan solusi stabilisasi tanah (soil stabilization). Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation, Jepang, yang membawa transfer teknologi dari negara dengan tantangan geoteknik tinggi.

Perluasan kerja sama ini dikukuhkan melalui penandatanganan perjanjian bisnis di Tokyo pada Januari 2026 yang melibatkan induk usaha SBI, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), bersama jajaran direksi dari SIG Group dan Taiheiyo Cement Group.

Efisiensi Material dan Ketahanan Jangka Panjang

Direktur Utama SBI, Rizki Kresno Edhie Hambali, menegaskan bahwa ketahanan sebuah bangunan harus dimulai dari perencanaan tanah dasar yang cermat. Penggunaan teknologi stabilisasi tanah ini diklaim jauh lebih unggul dibandingkan metode konvensional seperti penggantian tanah (soil replacement).

“Perubahan iklim menuntut pendekatan konstruksi yang lebih cermat sejak tahap perencanaan tanah dasar. Melalui inovasi solusi stabilisasi tanah, kami meningkatkan stabilitas struktural untuk ketahanan proyek dalam jangka panjang,” tutur Rizki Kresno.

Lebih lanjut, Rizki menjelaskan keunggulan teknis dari metode ini:

  • Efisien: Meminimalkan penggunaan material pengikat tambahan.
  • Cepat: Memungkinkan penggunaan tanah lunak di lokasi tanpa perlu pembuangan tanah berlebih, sehingga mempercepat waktu konstruksi.
  • Ekonomis: Menekan potensi biaya rehabilitasi akibat kerusakan struktural di masa depan.

Implementasi Nyata pada Proyek Strategis

Solusi stabilisasi tanah SBI telah teruji di berbagai proyek nasional dengan tantangan geoteknik yang beragam. Di antaranya adalah:

  • Tol Semarang–Solo Seksi Penggarong: Memperkuat fondasi jalan di kawasan tanah lunak agar mampu menopang beban lalu lintas berkelanjutan.
  • Proyek Kalimantan: Penanganan karakter tanah lunak yang dominan di wilayah tersebut.
  • Kawasan Industri Cikarang & Bekasi: Diaplikasikan pada pembangunan pergudangan, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas parkir.

Mendukung Pembangunan Rendah Emisi

Selain aspek teknis, inovasi ini juga merupakan bagian dari komitmen SBI terhadap agenda adaptasi perubahan iklim nasional. Dengan penggunaan material yang lebih terukur, solusi ini mendukung pembangunan rendah emisi yang lebih berkelanjutan.

“Solusi ini memungkinkan penggunaan tanah lunak yang tidak stabil di lokasi konstruksi, mempercepat waktu konstruksi secara signifikan dan mengurangi penanganan tanah berlebih, sehingga lebih berkelanjutan dan efisien dari sisi biaya,” imbuh Rizki Kresno.

Melalui langkah ini, SBI tidak sekadar membangun struktur, tetapi juga menghadirkan fondasi yang memperkuat daya tahan Indonesia di tengah dinamika risiko lingkungan global.