SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Upaya penghematan bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas (BBG) tidak selalu identik dengan pembatasan aktivitas ekonomi. Pendekatan efisiensi justru dinilai mampu menjaga bahkan meningkatkan produktivitas, selama dilakukan secara terukur dan berbasis kebutuhan.
Ciplis Gema Qoriah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menekankan bahwa konsep hemat energi lebih pada kecerdasan dalam penggunaan.
BACA JUGA:
- OJK Percepat Reformasi Pasar Modal Guna Perkuat Likuiditas dan Kepercayaan Investor
- Peran Doktor Ekonomi dalam Merumuskan Arah Pembangunan Menuju Indonesia Emas 2045
- Jelang Natal 2025 dan Tahun Baru, Pertamina Patra Niaga Prediksi Konsumsi LPG dan BBM Meningkat
- Purbaya Sebut Ekonomi Tumbuh 6% Mudah, 7-8% Baru Butuh Ekstra Effort
"Artinya dengan ketersediaan yang ada, mampu mengoptimalkan antara biaya dan manfaat dengan dukungan mitigasi risiko yang baik, mengoptimalkan sistem digital dan menciptakan sistem yang tertata lebih rapi," katanya.
Pada skala rumah tangga, langkah efisiensi dapat dimulai dari hal sederhana seperti penggunaan listrik sesuai kebutuhan, memilih perangkat elektronik berdaya rendah, hingga pengelolaan konsumsi gas secara efektif. Selain itu, perencanaan penggunaan BBM untuk mobilitas harian juga menjadi faktor penting, termasuk mempertimbangkan jarak, akses jalan, dan urgensi aktivitas.
Pendekatan ini membuat alokasi energi menjadi lebih tepat sasaran tanpa mengurangi produktivitas. Ke depan, pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya di tingkat rumah tangga dinilai berpotensi dikembangkan, dengan dukungan kebijakan pemerintah dalam bentuk subsidi bertahap.
Pada level industri, prinsip efisiensi diterapkan dalam skala lebih besar. Penggunaan energi perlu direncanakan berdasarkan prioritas produksi dan target pendapatan. Optimalisasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, turut berperan dalam menekan biaya sekaligus meningkatkan kualitas output.
Efisiensi juga dapat diperkuat melalui desain sistem produksi dan pencahayaan modern yang hemat energi. Di sisi lain, inovasi energi non-fosil seperti tenaga surya, air, angin, dan sumber kinetik mulai menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
Dalam konteks yang lebih luas, peran pemerintah menjadi krusial melalui pembangunan infrastruktur transportasi yang efisien. "Pemerintah perlu memperbaiki infastruktur jalan darat yang rusak secara berkala untuk mengurangi kebutuhan BBM kendaraan. Semakin tidak bagus jalan semakin banyak energi yang dikeluarkan, dan itu berbiaya," kata Ciplis.







