K.H. Fahmi Amrulloh atau yang akrab disapa Gus Fahmi.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Menjelang Muktamar NU ke-35, cucu Hadrotus Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, KH. Fahmi Amrulloh atau yang akrab disapa Gus Fahmi menyampaikan pandangannya terkait kriteria Ketua Tanfidziyah NU ke depan.
“Rais Aam wajib alim, tapi Ketua NU tidak harus alim,” ucap Pengasuh Ponpes Tebuireng Puteri itu saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2026).
BACA JUGA:
- Usung Tema NU untuk Bangsa, Pengurus PCNU Bangil Periode 2026-2031 Resmi Dilantik
- Lesbumi PWNU Jatim Dorong Penanaman Nilai Perjuangan NU kepada Gen Z Lewat Kajian Poskolonial
- Juga Beredar Surat PBNU Tanda Tangan Tunggal Gus Yahya, Tanpa Rais Aam, untuk Presiden
- Istighosah Kubro Gempol, Mbak Mela Pesan Jaga Aqidah Aswaja
Ia menjelaskan, Ketua Umum NU tidak harus berasal dari kalangan kiai, gus, atau ulama pesantren, melainkan sosok yang memiliki pengabdian tinggi untuk mengembangkan NU.
Sebagai contoh, Gus Fahmi menyebut Ketua Umum NU pertama, H. Hasan Gipo, yang dikenal sebagai saudagar dan pengusaha kaya pada zamannya.
“Hampir seluruh hartanya dicurahkan untuk perjuangan NU, sifat royalitas, loyalitas, dan totalitasnya tinggi. Jadi soal Ketua NU ke depan itu tergantung Muktamar nanti, kalau bisa ada sosok yang seperti Hasan Gipo. Beliau itu memang kaya dan tidak menambah kekayaan di NU,” paparnya.
Menurut dia, mengurus NU tidak harus melalui struktur kepengurusan. Nahdliyin yang memiliki komitmen kuat untuk mengabdi lebih baik, dibandingkan pengurus yang justru mencari keuntungan dari organisasi. (afa/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





