Petilasan Syaikhona Kholil di Bangkalan Belum Terawat

Petilasan Syaikhona Kholil di Bangkalan Belum Terawat Musyawarah terkait peninggalan ulama kharismatik, Syaikhona Kholil bin Abdul Latif, di Bangkalan. Foto: AHMAD FAUZI/BANGSAONLINE

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Sejumlah peninggalan ulama kharismatik, Syaikhona Kholil bin Abdul Latif, di Desa Telaga Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, belum sepenuhnya terawat. Dari 4 petilasan yang ada, yakni masjid, Perahu Sarimuna, langgar (mushola) , dan rumah, baru 2 yang dijaga, sementara rumah serta langgar masih dikuasai pihak lain.

Hal itu disampaikan K.H. Imam Buchori dalam musyawarah pemanfaatan mushola di Telaga Biru, Kamis (16/6/2026) malam. Ia menekankan pentingnya pelestarian petilasan Syaikhona Kholil, terutama setelah peringatan 1 Abad. 

“Petilasan Syaikhona Kholil di mana pun berada perlu dilestarikan, baik di luar Jawa, di Jawa, maupun di Madura, khususnya di Bangkalan,” ujarnya.

Sementara itu, K.H. Makki Nasir menyebut pengakuan sebagai pahlawan nasional harus diiringi dengan upaya serius merawat sejarah. 

“Sejarah bukan hanya masa lalu, tetapi peta untuk menatap masa depan,” tuturnya.

Musyawarah dihadiri unsur Muspika Tanjung Bumi, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pemuda Telaga Biru. 

Peserta sepakat membentuk tim kecil untuk berkomunikasi dengan pihak yang menguasai rumah dan langgar peninggalan Syaikhona Kholil. Tim diketuai K.H. Makki Nasir, dengan K.H. Imam Buchori sebagai sekretaris.

Ditegaskan pula bahwa upaya tersebut bukan untuk menguasai, melainkan menjaga warisan sejarah. 

“Ini bukan untuk menguasai, tetapi untuk merawat, menjaga dan melestarikan,” kata Imam. 

Ia menekankan, peninggalan Syaikhona Kholil adalah milik umat nusantara dan harus dijaga sebagai bentuk tabarrukan.

Ke depan, seluruh petilasan diharapkan dapat ditetapkan sebagai cagar budaya. Pemkab Bangkalan dan Pemprov Jatim didorong untuk memperjuangkan status dimaksud. (uzi/mar)