Lia Istifhama saat melaksanakan ibadah lontar jumrah.
Tindakan: Jika terpisah, tunjukkan kartu atau gelang tersebut kepada petugas untuk memudahkan proses evakuasi atau pengantaran kembali ke tenda.
3. Cari Pos Petugas atau Bendera Merah Putih
Pemerintah Indonesia melalui PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) telah menyiagakan ratusan petugas di sepanjang jalur jamarat, terutama di titik-titik krusial seperti terowongan Mina dan persimpangan maktab.
Jemaah diimbau untuk segera mencari petugas yang mengenakan seragam resmi atau rompi bertuliskan "Petugas Haji Indonesia".
"Petugas kita tersebar di sepanjang jalur Mina. Jika merasa kehilangan rombongan, segeralah mendekat ke pos petugas terdekat atau cari kerumunan jemaah Indonesia lainnya. Jangan malu atau takut untuk bertanya," lanjut Ning Lia.
4. Jangan Berjalan Sendirian, Gunakan Sistem "Saling Jaga"
Sejak awal keberangkatan, jemaah selalu diingatkan untuk bergerak dalam kelompok-kelompok kecil (regu). Ning Lia menekankan pentingnya komitmen antarjemaah untuk saling mengawasi satu sama lain selama perjalanan menuju tempat melontar jumrah.
"Keberhasilan menghadapi padatnya Mina adalah kebersamaan. Jangan ada jemaah yang merasa kuat lalu berjalan sendirian meninggalkan regunya. Saling menjaga pandangan dan saling memegang pundak atau tas kawan di depan jika arus manusia sedang sangat padat," pungkasnya.
Dengan kedisiplinan, fisik yang prima, serta pemahaman regulasi jalur yang baik, fase krusial di Mina diharapkan dapat dilalui oleh seluruh jemaah haji Indonesia dengan aman, lancar, dan selamat hingga kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




