Pedagang pernak pernik bunga Maulid di kios Pasar Banyuwangi, Jawa Timur. (ft: antara)
BANGSAONLINE.com - Memperingati Maulid Nabi Muhammad, dilakukan untuk mengenang perjuangannya. Maulid Nabi di Indonesia diperingati secara luas pada 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Tahun ini, bertepatan dengan 24 Desember 2015.
Keragaman budaya di Indonesia, turut mewarnai bentuk peringatan hari kelahiran Nabi Besar umat muslim ini.DI ujung timur Pulau Jawa, di Banyuwangi, Jawa Timur, ada Festival "Endog-endogan" atau arak-arakan membawa keliling telur. Endog-endogan merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi yang telah dijalankan sejak puluhan tahun lalu.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di situs resminya menjelaskan, beberapa literatur menyebutkan tradisi ini diawali 12 tahun setelah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, oleh tokoh agama dari Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
Mengapa telur? Sesuai filosofi telur, dalam telur memiliki tiga lapisan, yakni kulit (cangkang), putih, dan kuning. Ketiganya dinilai sebagai simbol dari nilai-nilai Islam. Kulit bermakna Iman, putih telur adalah Islam, dan kuning telur diartikan Ihsan.
Telur yang diarak biasanya ditancapkan pada jodang (batang pohon pisang). Penggunaan batang pisang itu juga memiliki makna dan simbol. Pohon ini tak akan mati sebelum berbuah, dan jika ditebas di dalamnya masih ada lapisan yang baru dan akan terus tumbuh.
Setelah diarak keliling kampung, jodang akan diletakkan di serambi masjid atau mushola dan akan dibagikan kepada masyarakat selepas pengajian dan makan bersama. Demikian laporan Kompas.com.
Tradisi endog-endogan tersebar di 24 kecamatan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, terutama di wilayah-wilayah yang ditempati Suku Using, suku asli Banyuwangi. Mulai dari mushola kecil di desa, masjid, sekolah, bahkan organisasi Islam, semuanya menggelar tradisi endog-endogan.
Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, pohon uang atau "Bungo Lado" meramaikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Patamuan di Padang Pariaman, juga menyebutnya sebagai Kajombong, atau hiasan berbentuk pohon dengan banyak ranting.
Pada ranting-ranting itu, daunnya berupa uang kertas pecahan Rp2 ribu, hingga Rp100 ribu. Kajombong itu merupakan bentuk sumbangan bersama dari masyarakat atas nama pemuda dua dusun dalam nagari, dan satu lagi dari para urang sumando, mereka yang menikah dengan perempuan setempat.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




