Mendengar ajakan tersebut beberapa warga secara spontan mengambil batu kali yang ada di sekitar areal itu, kemudian menatannya menjadi pembatas jalan. Pembatas yang dibuat spontanitas oleh warga inilah yang menutup jalan ke RS Emma.
Rohmat, salah satu warga GPI meyayangkan pembangunan poli pengobatan baru milik Emma, akibat adanya pasien yang keluar masuk di poli tersebut, lalu lintas warga GPI seringkali terganggu.
‘’Saya seringkali terlibat adu mulut dengan pemilik mobil pasien yang parkir seenak sendiri di pintu masuk GPI,’’ cerita Rohmat.
Banyaknya warga yang bergerombol di pintu masuk GPI, mengundang pemilik RS Emma, Marlyen keluar untuk mempertanyakan kepentingan warga. Sehingga terjadilah perdebatan antara perwakilan warga dengan Marlyen.










