Kapal yang membawa sebanyak 44 imigran asal Sri Lanka terdampar di perairan Aceh. Mereka yang hendak menuju Australia ditemukan oleh nelayan setempat pada Sabtu lalu.
ACEH, BANGSAONLINE.com - Kapal imigran gelap asal Sri Lanka terdampar di perairan Lhoknga, Aceh, Selasa (14/6). Sehari sebelumnya, kapal itu digiring ke tengah laut.
Kapal mulai merapat ke bibir pantai sejak pukul 12.00 WIB didorong oleh empasan ombak perlahan-lahan. Sedangkan mesin kapal dalam kondisi mati.
BACA JUGA:
- Jemaah Haji Aceh Kloter Pertama Mulai Mendarat di Madinah, 68 Masuk Kategori Lansia
- Update Harga Pangan Aceh 23 Februari 2026: Bawang, Beras hingga Cabai Naik Semua
- Daftar Harga Sembako Aceh 2 Februari 2026: Bawang Turun, Daging dan Cabai Keriting Melonjak
- Fluktuasi Harga Pangan Aceh 12 Januari 2026: Daging Sapi, Ayam dan Cabai Rawit Hijau Naik
Merapatnya kapal tersebut membuat warga yang berada di sekitar pantai berbondong-bondong berkumpul di lokasi. Demikian juga sejumlah media sudah berkumpul sejak kapal merapat ke pantai.
Imigran gelap sebanyak 44 orang dalam kapal tersebut ada yang berteriak. Dari bahasa isyarat yang mereka perlihatkan, semuanya meminta supaya bisa turun dari kapal. Dalam kapal itu juga ada anak-anak dan perempuan. Bahkan ada seorang perempuan sedang hamil.
Warga Sri Lanka itu tak henti-henti meminta tolong. Bahkan ada sejumlah anak-anak dan perempuan menangis meminta supaya segera diturunkan.
Sedangkan kapal tersebut terombang-ambing diempas ombak. Empasan ombak membuat kapal tak seimbang dan nyaris terbalik. Sementara tim SAR, kepolisian, TNI, UNHCR dan pihak imigrasi sudah hadir di lokasi.
Kepala Imigrasi Banda Aceh, Herry Sudiarto mengatakan, kapal berisi 44 pengungsi etnis Tamil, Srilanka, masih terdampar di lepas pantai Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, setelah sempat digiring ke luar perairan Indonesia hari Minggu (12/06). Dia mengatakan, kapal itu pertama kali masuk perairan Aceh, pada Sabtu (12/6) malam.
"Jadi kala itu terdampar, terlihat oleh nelayan. Lalu dilaporkan kepada aparat polisi air," kata Herry Sidarto kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia.
Setelah dihampiri oleh polisi air, diketahui bahwa kapal mengalami kerusakan mesin. "Lalu kami kirim dua orang yang ahli membetulkan mesin. Sesudah mesinnya bisa diperbaiki, mereka meminta 7.000 liter bahan bakar," kata Herry pula.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




