Ahok dan Nusron Wahid. Foto: kompas.com
"Ahok kan atasannya (Saefullah), masa keki dengan kinerja anak buahnya sendiri?," ujarnya.
Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nadhatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta Zuhri Ya'kub juga berang. Menurut dia, ketakutan Ahok pada Saefullah sangat jelas terlihat.
Dia pun menuding Ahok memanfaatkan kedekatannya dengan media untuk menekan Saefullah. "Ini kesempatan Ahok berbicara kepada media sebagai sebuah sinyal agar sekda mengurungkan niatnya maju atau menolak pinangan partai menjadi bakal calon wakil gubernur," ujarnya.
Sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang membidik Nusron Wahid. KPK mengaku tak akan mendiamkan keterangan Darmadi, salah satu saksi dalam perkara suap ke Edy Nasution selaku panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menyebut Nusron Wahid menerima uang. Sebab, dalam berkas acara pemeriksaan (BAP) Darmaji mengaku pernah mengantar majikannya, Doddy Ariyanto Supeno menyerahkan uang ke Nusron.
Menurut Juru Bicara KPK, Yuyuk Andriati, kesaksian Darmaji yang dibacakan di persidangan atas Doddy selaku terdakwa perantara suap di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/8) itu akan didalami. "Semua fakta yang terungkap di persidangan akan dianalisa," kata Yuyuk, Kamis (25/8).
Yuyuk menjelaskan, setelah fakta itu dianalisa, penyidik akan mendalaminya dengan mengumpulkan bukti serta meminta keterangan sejumlah pihak. "Akan didalami oleh penyidik," ujar Yuyuk.
Seperti diketahui, Nusron Wahid muncul dalam persidangan atas Doddy Ariyanto Supeno, pegawai PT Artha Pratama Anugerah yang didakwa menyuap Edy Nasution selaku panitera PN Jakpus. Pada persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/8), Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Fitroh Rohcahyanto membacakan BAP Darmaji yang tak lain sopir pribadi Doddy.
Sedianya Darmaji memang bersaksi pada persidangan itu. Namun, karena Darmaji sudah tiga kali mangkir untuk bersaksi, maka JPU hanya membacakan BAP. Dari BAP Darmaji itu pula terungkap pihak-pihak yang biasa didatangi Doddy.
“Sering menemui berbagai pejabat antara lain Nurhadi sekretaris MA, Saudara Lukas, Yuddy Chrisnandi menteri PAN-RB, Saudara Nasir, Saudara Nusron Wahid," kata Fitroh saat membacakan BAP Darmaji.
(BACA: nusron-wahid-disebut-terima-uang-dari-lippo-di-kantor-ansor" style="background-color: initial;">Sidang Kasus Suap Panitera, Nusron Wahid Disebut Terima Uang dari Lippo di Kantor Ansor)nusron-wahid-didesak-mundur-disebut-terima-suap-dari-lippo-group" style="background-color: initial;">
Dari BAP Darmaji itu juga terungkap bahwa Doddy merupakan orang kepercayaan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro dalam berbagai hal. Termasuk, mengantarkan dokumen, barang, dan uang kepada sejumlah pihak.
Bahkan, kata Fitroh menambahkan, Darmaji mengaku pernah mengantarkan Doddy menyerahkan uang kepada Nusron Wahid yang kini menjadi kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Menurut Darmaji, penyerahan uang tersebut dilakukan di kantor GP Ansor.
(BACA: nusron-wahid-didesak-mundur-disebut-terima-suap-dari-lippo-group">Nusron Wahid Didesak Mundur, Disebut Terima Suap dari Lippo Group)
"Saudara Doddy sering mengirimkan barang yang saya duga berupa uang kepada Saudara Lukas dengan pengiriman di basement gedung Matahari Jalan Jenderal Sudirman. Dan kepala BNP2TKI di kantor Pemuda Ansor," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




