KH Imam Jazuli, LC, MA. Foto: Dok. Pribadi
Oleh: KH Imam Jazuli Lc., MA
Minggu malam, 19 April 2026, Grand Mercure Kemayoran menjadi saksi bisu. Bukan sekadar halal bihalal biasa. Aroma "konsolidasi" tercium lebih kuat daripada aroma hidangan Lebaran. Di sana, berkumpul para alumni PMII—mereka yang menancapkan pengaruh di berbagai lini, dari partai politik hingga kabinet pemerintahan.
Ketika Cak Imin, Nusron Wahid, dan Prof. Nasaruddin Umar berada dalam satu frekuensi, kita tahu ada sesuatu yang besar sedang dirajut. Tema besarnya jelas: Menyelamatkan NU.
Membaca fenomena ini, pikiran saya melayang pada pepatah lama: "Anak nakal sekalipun, jika rumah orang tuanya terbakar, ia akan lari pulang memadamkan api." IKA PMII sedang melakukan hal itu.
*"Kegagalan" dan Panggilan Hati*
Cak Imin, dengan gaya khasnya yang santai tapi menohok, tidak menutupi fakta. Ada kegagalan pada era kepemimpinan PBNU saat ini. Ini bukan tudingan kosong. Saat kepemimpinan NU terasa menjauh dari akar rumput, atau bahkan menjadi bagian dari problem alih-alih solusi, nurani alumni PMII terusik.
Bagi saya, pernyataan ini adalah refleksi jujur. Mengabdi di PMII bukan sekadar pernah ikut Mapaba (masa penerimaan anggota baru), tapi soal panggilan hati. Saat PMII—anak intelektual NU—melihat "ibu kandungnya" (PBNU) membutuhkan arah baru, diam adalah pengkhianatan. Muktamar Agustus 2026 bukan sekadar suksesi, tapi moment of truth untuk perbaikan bersama.
*Logika Nusron: Saatnya "Anak" Bicara*
Nusron Wahid menyampaikannya dengan lebih lugas, gaya khas seorang troubleshooter. Logikanya sederhana namun telak: Kalau alumni organisasi lain saja repot-repot memikirkan NU, kenapa alumni PMII yang lahir dari rahim NU justru diam?
Bahkan secara pribadi, Nusron telah mengakui kesalahannya atas kepemimpinan NU hari ini, karena dia terlibat sebagai Timsesnya, untuk itu dia minta maaf, lahir dan batin, serta berjanji tidak akan mengulanginya.
Nusron benar. Ada kalanya sebuah organisasi butuh "intervensi" pemikiran yang lebih segar. Perbaikan visi, niat, dan kepemimpinan bukanlah barang haram. Menjelang Muktamar, konsolidasi adalah keharusan strategis. Jangan sampai NU, sebagai jangkar moderasi, kehilangan arah karena manajemen kepemimpinan yang salah urus.






