Khariri Makmun. Foto: istimewa
Oleh: Khariri Makmun (Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor)
Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama, setiap kepemimpinan meninggalkan jejak yang berbeda. Ada masa ketika NU sangat kuat sebagai kekuatan kultural, ada fase ketika NU dominan dalam arena politik, dan ada periode ketika NU bergerak sebagai organisasi sosial-keagamaan yang modern serta berwibawa di tingkat nasional maupun global. Salah satu fase penting itu tampak pada masa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi.
Di bawah kepemimpinannya selama dua periode, NU mengalami transformasi yang signifikan. Ia tidak sekadar memimpin organisasi besar, tetapi mengelola perubahan di tengah situasi nasional yang sedang bergolak pasca-Reformasi. Saat banyak organisasi sibuk mengurus fragmentasi internal, NU justru bergerak menuju konsolidasi, modernisasi, dan ekspansi pengaruh moral di ruang publik.
Warisan terbesar Kiai Hasyim Muzadi adalah keberhasilannya mendorong NU beranjak dari sekadar "jama’ah" menjadi "jam’iyyah" dalam arti yang lebih substantif. NU tetap berakar pada tradisi pesantren dan jaringan kiai, tetapi mulai dikelola dengan semangat organisasi modern: administrasi yang tertib, struktur yang lebih fungsional, komunikasi publik yang terukur, serta orientasi program yang jelas.

KH Hasyim Muzadi. Foto: istimewa
Ini penting dicatat. Banyak organisasi besar gagal bukan karena kekurangan massa, melainkan karena kelebihan romantisme masa lalu. Mereka hidup dari nostalgia, tetapi lumpuh dalam tata kelola. NU pada era Kiai Hasyim relatif berhasil menghindari jebakan itu. Tradisi tetap dirawat, namun manajemen diperbarui.
Pada saat yang sama, Kiai Hasyim Muzadi memahami bahwa kekuatan NU sesungguhnya tidak berada di gedung pusat, melainkan di ranting-ranting desa, majelis taklim kampung, pesantren kecil, dan jaringan sosial warga nahdliyin. Karena itu, ia dikenal aktif turun ke bawah, merapikan konsolidasi internal, dan memastikan NU tidak terjebak dalam polarisasi elite.
Pendekatan ini menunjukkan naluri kepemimpinan yang matang. Organisasi sebesar NU tidak bisa dipimpin hanya dari podium dan konferensi pers. Ia harus disentuh melalui kedekatan emosional, penghormatan kepada struktur bawah, dan kemampuan mendengar aspirasi warga. Dalam konteks ini, Kiai Hasyim tidak memimpin NU sebagai birokrat, melainkan sebagai pengayom.
Aspek lain yang sering luput dibaca adalah orientasi pemberdayaan ekonomi dan sosial. Kiai Hasyim menyadari bahwa umat tidak cukup hanya diberi ceramah keagamaan. Warga NU yang banyak berada di pedesaan membutuhkan akses ekonomi, pendidikan, dan peningkatan kapasitas sosial. Karena itu, gagasan pemberdayaan warga menjadi salah satu agenda penting di masanya.
Di sinilah relevansi kepemimpinan Hasyim terasa hingga hari ini. Organisasi keagamaan tidak cukup hanya bicara halal-haram atau identitas. Ia harus hadir menjawab kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, dan keterbelakangan pendidikan. Jika tidak, agama hanya menjadi simbol, bukan solusi.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




