Mencari Kembali Figur Pemersatu di Tubuh NU

Mencari Kembali Figur Pemersatu di Tubuh NU Khariri Makmun. Foto: istimewa

Namun mungkin warisan paling strategis dari Kiai Hasyim Muzadi justru berada di ranah global. Ia termasuk tokoh NU yang serius mengenalkan wajah Islam Indonesia ke panggung internasional. Melalui International Conference of Islamic Scholars (ICIS), ia mempertemukan ulama dan pemikir dari berbagai negara untuk mempromosikan dialog, perdamaian, dan moderasi.

Pada masa ketika dunia sering memandang Islam melalui lensa ekstremisme dan konflik, langkah itu sangat visioner. Hasyim membaca bahwa NU bukan hanya aset nasional, tetapi modal peradaban global. Islam Nusantara—meski istilah itu belum sepopuler sekarang—sesungguhnya telah dipraktikkan melalui diplomasi pemikiran yang ia jalankan.

Langkah lain yang menjukkan pandangan jauh ke depan adalah lahirnya NU Online. Di era ketika banyak organisasi keagamaan masih lambat beradaptasi dengan dunia digital, NU mulai memiliki kanal resmi untuk menyebarkan informasi, pandangan keagamaan, dan narasi moderat. Kini, publik bisa melihat bahwa media digital bukan sekadar pelengkap, melainkan arena utama pertarungan gagasan.

Secara politik, Kiai Hasyim juga meletakkan garis penting: NU harus dekat dengan negara, tetapi tidak larut dalam politik praktis yang memecah belah. Ia menegaskan hubungan antara keislaman dan kebangsaan sebagai satu tarikan napas. Menjaga NKRI, merawat kebinekaan, dan memperkuat kohesi sosial bukan agenda sekuler, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Pandangan ini sangat relevan di tengah era ketika banyak ormas tergoda menjadi kendaraan elite, alat mobilisasi elektoral, atau sekadar penekan kebijakan jangka pendek. Organisasi besar seperti NU semestinya berdiri lebih tinggi dari siklus politik lima tahunan. Ia harus menjadi penyangga bangsa, bukan peserta kegaduhan.

Secara personal, Kiai Hasyim Muzadi dikenal memiliki komunikasi publik yang kuat. Ia bisa berbicara kepada elite politik dengan bahasa strategis, kepada intelektual dengan argumentasi rasional, dan kepada masyarakat akar rumput dengan bahasa sederhana. Kemampuan semacam ini langka. Banyak tokoh pandai bicara di seminar, tetapi gagal dipahami rakyat. Sebaliknya, ada yang populer di massa namun miskin kedalaman gagasan. Kiai Hasyim berada di tengah: komunikatif sekaligus substansial.

Humor-humornya pun bukan sekadar hiburan, melainkan medium pendidikan sosial. Ia sering menyisipkan pesan kebangsaan, kemasiaan, dan kritik sosial melalui candaan cerdas. Dalam budaya politik yang mudah tegang, humor seperti itu justru menjadi alat pendingin suasana.

Tentu, tidak ada kepemimpinan yang sempurna. Era Kiai Hasyim juga memiliki keterbatasan, tantangan, dan kritik. Tetapi ukuran seorang pemimpin bukan absennya kekurangan, melainkan apakah ia meninggalkan arah yang jelas bagi generasi setelahnya. Dalam hal ini, jawabannya iya.

Kini ketika NU memasuki babak baru dengan tantangan digitalisasi, fragmentasi elite, komersialisasi agama, dan kompetisi pengaruh antarormas, kebutuhan utama bukan sekadar figur populer. NU membutuhkan sosok yang tenang, menyejukkan, piawai mengelola organisasi, dekat dengan akar rumput, mampu bicara ke dunia internasional, serta menjaga jarak sehat dari tarik-menarik politik praktis.

Muktamar mendatang, kapan pun berlangsung, seharusnya dibaca bukan hanya sebagai perebutan kursi kepemimpinan, tetapi momentum menentukan arah dan visi organisasi. Apakah NU akan terus menjadi jangkar moderasi bangsa, atau justru terseret menjadi organisasi yang sibuk dengan konflik internal dan kepentingan sesaat ?.

Warisan Kiai Hasyim Muzadi mengingatkan bahwa organisasi besar memerlukan lebih dari sekadar massa besar. Ia membutuhkan kewibawaan moral, kapasitas manajerial, visi kebangsaan, dan keteduhan kepemimpinan. Itu yang dulu pernah dimiliki NU. Dan itu pula yang hari ini sedang dirindukan banyak orang.[]

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Gila NU dan Orang NU Gila, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (16)':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO