Manajer Humas PT. PG Muhammad Ihwan F saat memberikan keterangan songsong musim tanam.
GRESIK, BANGSAONLINE.com - Meningkatnya petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani (poktan) tiap tahunnya diwaspadai PT Petrokimia Gresik (PG).
Sebab, petani ini tidak mendapatkan jatah pupuk dengan harga subsidi. Dan merekalah juga yang berpotensi viral di media karena membeli pupuk dengan harga jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
BACA JUGA:
- Musim Tanam 2026: Petrokimia Gresik Siapkan 219 Ribu Ton Pupuk Bersubsidi
- Perkuat Regenerasi Petani dan Cetak Agripreneur, PG Beri Beasiswa 50 Siswa SMK Pertanian
- Hadapi Dinamika Global, Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Sulfur
- Dukung Pertumbuhan UMKM Warga Sekitar, Petrokimia Gresik Kembali Gelar Bazar Ramadhan Lontar 2026
"Subsidi petani hanya diberikan kepada petani yang tergabung dalam kelompok tani. Jika tidak tergabung, mereka akan membeli dengan harga tinggi karena kebutuhannya tidak tercatat dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Bisa dua kali lebih mahal dari subsidi," ujar Manajer Humas PT Petrokimia Gresik (PG) Muhammad Ihwan F, dalam acara Apresiasi Jurnalistik Caturwulan II 2018, di Wisma Kebomas, Gresik, Rabu (3/10/2018).
Dia mengungkapkan, HET subsidi urea Rp 1.800 per kilogram, kalau harga pasar atau harga normal bisa Rp 4.000. Sedangkan ZA, Rp 1.400 per kilogram, harga normal Rp 3.000.
"Ketika ada pejabat Pemerintah Pusat berkunjung ke daerah mereka mengeluhkan harga pupuk mahal. Ternyata ketika ditanya lebih lanjut, mereka belum tergabung dalam kelompok tani, seperti kejadian di Tuban beberapa waktu lalu," ungkap Ihwan.
Data yang dia sampaikan, saat ini sebanyak 26,14 juta petani yang tergabung dalam 318.396 poktan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




