Tanggal 25 November akan Diperingati Sebagai Hari Keris Nasional

Tanggal 25 November akan Diperingati Sebagai Hari Keris Nasional Kepala Disparbudpora Kabupaten Sumenep, Drs. Carto, M.M.

SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kabupaten Sumenep memiliki kebanggaan sebagai Kota Keris. Bahkan dalam kegiatan workshop kebudayaan yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, beberapa hari lalu, Kabupaten Sumenep diundang ke Jakarta, karena tercatat di Unesco sebagai Kota dengan pengrajin terbanyak, hingga 625 orang empu.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumenep, Drs. Carto, M.M, mengungkapkan, kemarin dirinya diundang Kemendikbud bersama Bali yang menjadi ikon budaya kota yang memiliki budaya dan tercatat di Unesco. Yakni Sumenep sebagai Kota Keris dan Bali memiliki potensi dan Kesenian Tari.

“Harapannya, dalam kegiatan tersebut nantinya akan ada peran pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk mempopulerkan budaya yang ada, agar menjadi konsumsi berita dan tersebar tidak hanya di dalam, namun juga di luar negeri,” ungkapnya, Kamis (05/09/2019).

Diakui Carto, jika dalam seminar tersebut juga disinggung soal apakah kebudayaan yang ada itu memiliki pengaruh terhadap ekonomi dengan adanya warisan budaya tersebut, dan bagaimana upaya meningkatkan nilai budaya yang dimiliki. Sebab, terkait pertumbuhan Kabupaten Sumenep sebagai Kota Keris, karena memiliki potensi pengrajin terbanyak di Indonesia.

Sesuai catatan, sejak tahun 2004 Kabupaten Sumenep memiliki 123 orang empu, tahun 2012 naik menjadi 399 orang empu, dan pada tahun 2018 memiliki 652 orang empu. Sedangkan yang kedua, yakni Yogyakarta yang hanya memiliki 232 orang empu. Bahkan, menurut Carto, pada tanggal 25 November akan ditetapkan sebagai Hari Keris Nasional (HKN).

Karena itu, dalam hasil seminar tersebut disimpulkan beberapa harapan, yakni harus ada regenerasi bidang kean, harus ada pengetahuan ke sekolah-sekolah berkaitan tentang , karena para ulama, para pimpinan dan raja sejak dulu memakai , sehingga perlu semua digambarkan, agar generasi muda juga turut mencintai dan melestarikannya.

“Ke depan perlu adanya kolaborasi pemerintah dengan pengrajin , bagaimana memperkenalkan . Jika dulu dikenal sebagai senjata, sekarang dikenal sebagai Tosaaji ( baru) yang lebih menonjolkan seninya, bahkan bisa dikembangkan pada gaya arsitektur, pamor , dan sebagainya,” tambahnya. (aln/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Ritual Larung Sesaji di Dam Baduk Desa Malangsari Tetap Lestari':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO